a
Widget Image
pembangkit listrik

Pro Kontra Pembangunan PLTU Pulau Panjang

pembangkit listrik

Ilustrasi

SERANG, BANPOS – Rencana pembangunan Pembanngkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pulau Panjang, Kecamatan Puloampel oleh PT Abhaya Indonesia Energi (AIE) mendapat tanggapan beragam dari warga sekitar. Sebagian warga menolaknya dengan alasan berdampak pada kerusakan lingkungan, namun ada juga warga yang mendukung karena dinilai bisa memperbaiki ekonomi masyarakat sekitar.

Salah seorang warga Pulau Panjang, Ahmad Buang mengatakan, dirinya mempertanyakan rencana pembangunan PLTU tersebut, karena menurutnya PLTU Pulau Panjang menyalahi aturan dan berdampak pada rusaknya lingkungan di wilayahnya. “Ini (Pulau Panjang, red) kan kampung nelayan, dimana sumber penghasilan masyarakat adalah dari hasil laut seperti ikan dan rumput laut. Kalau PLTU dibangun tentu akan berdampak pada lingkungan dan bukan mustahil nelayan akan menjadi sengsara,” ujarnya.

Penolakan juga disampaikan oleh Kepala Desa Pulau Panjang, Sukari yang mengatakan, bahwa saat ini sedang terjadi keresahan di kalangan warga. Sebab, lahan yang diajukan untuk pembangunan PLTU seluas 750 hektare. Sementara total lahan yang ada di Pulau Panjang secara keseluruhan hanya 820 hektare. “Kalau di BPN katanya luas lahan Desa Pulau Panjang adalah 820 hektare, sedangkan alokasi lahan yang dibutuh oleh PT Abaya ini 750 hektar. Warga mau dikemanain ini habis semua. Masa kami memberi lahan sementara orang pribumi diusir,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Permusyawaratan Desa Pulau Panjang, Suhanda mengaku mendukung pembangunan PLTU Pulau Panjang. Karena munurut Suhanda, pembangunan PLTU tersebut nantinya akan memberikan manfaat bagi warga Pulau Panjang. “Kita lihat saja kedepannya, jika dengan adanya PLTU tersebut bisa mensejahterakan masyarakat disini harus kita dukung bersama, namun jika hanya menguntungkan pihak perusahaan saja itu harus dikaji dulu,” ungkapnya. (DWA/EKY)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment