a
Widget Image
pencabulan

Pimpinan Ponpes Kota Serang Cabul, Berikut Curhatan Santrinya

SERANG, BANPOS – Terungkap, pimpinan pondok pesantren (ponpes) sekaligus pengajar berinisial AK di salah satu ponpes di Taktakan, Kota Serang dilaporkan atas kasus pencabulan terhadap santrinya.

MH (17) salah satu korban dari AK yang sekaligus santrinya di pondok pesantren mengatakan, Tindak pencabulan AK sudah terjadi sejak tahun 2012 lalu. Tidak hanya terjadi pada saat itu saja. AK lagi-lagi mengulangi perbuatan cabulnya pada tahun 2013 lalu. Alasanya pun sama. Karena merasa tidak enak menolak perintah AK akhirnya MH menurutinya. “Kedua dipegang-pegang juga, dipeluk pahanya dipegang-pegang tempatnya di saung juga,”ujarnya.

Sedangkan menurut LH, kasus dugaan tindak pencabulan tersebut terjadi pada bulan Desember 2015 lalu hingga Januari 2016 selama tiga kali. Saat itu ponpes meliburkan kegiatan belajar mengajar.

Hampir seluruh santri dan santriwati pulang ke rumah masing-masing. Hanya LH dan JT yang diminta untuk tidak pulang karena alasan belajar pasaran (mengaji, red) kitab. Kepada LH, AK mengatakan akan mendatangi kamarnya pada malam hari. LH yang menanggap ucapan AK itu gurauan itu pun kaget saat jam tengah malam ia mendantangi kamarnya.

“Malam jam 12 Abah (AK) kamar atas. Sebelum itu memang abah ngomong mau kamar abis pasaran dan bawa martabak, saya pikir bohongan ternyata beneran dan ngetuk pintu kita bingung dan diam aja. Karena mikir ngehargain guru jadi kita buka pintu dan abah langsung duduk (masuk,red),”katanya.

Berita Sebelunya: HEBOH!!! Pimpinan Ponpes di Kota Serang Cabuli Empat Santri

Saat duduk di dalam kamar AK meminta kepada LH dan JT untuk meminjitnya. Alasannya pun sama karena merasa capek. Seusai dipijit AK meminta kepada LH dan JT tidur disampingnya.

Namun permintaan AK itu tidak langsung dituruti oleh keduanya. LH yang kaget mendengar permintaan pengajarnya itu pun duduk disampingnya. Saat duduk itulah LH memulai nafsu bejatnya. AK mencium LH, memegang kelamin dan memegang payudaranya. Sedangkan JT pun mendapat perlakuan yang sama.

Setelah beberapa hari kejadian pencabulan tersebut, hasrat biologis AK kembali memuncak. AK kembali masuk ke dalam kamar LH dan meminta dipijit. “Dia minta dipijitin pahanya. Abis saya itu didudukin, dipeluk dari belakang dipegang payudara dan kelamin dipegang sambil ditidurin. Saya takut pas itu,”tuturnya.

Pengakuan yang sama juga diungkapkan oleh SA. Ia menceritakan tindak pencabulah AK dilakukan sejak bulan Juni 2015 hingga januari 2016 atau sejak duduk di kelas II. SA mengaku dicabuli oleh AK saat berada di kamar mandi, di warung milik anak AK dan di kamar AK.

“Habis beresin kamar Abah, aku dicium, dipegang kelaminya dan payudaranya,”ungkapnya.

SA mengatakan AK berusia sekira 60 tahun dan tinggal berdua dengan anaknya di ponpes. sedangkan istrinya tidak berada di lingkungan ponpes dan tinggal di daerah Lontar, Kabupaten Serang.

“Dia tinggal pisah dengan anaknya. Anaknya punya warung kalau istrinya di Lontar,”katanya.

Usai melampaiskan nafsunya AK mengancam kepada keempat korbanya agar perbuatan cabul tersebut tidak diceritakan kepada orang lain. Keempat korban juga diberi imbalan sebesar Rp50 ribu setiap kali perbuatan cabul tersebut terulang.
”Dia dikasih uang Rp50 ribu katanya ada hak milik dan dikasih. Dia minta agar itu (cabul, red) tidak diceritakan kepada siapapun,”ujarnya.

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Serang AKP Arrizal Samelino dan Kanit UPPA Polres Serang belum bisa dikonfirmasi mengenai laporan dugaan tindak pencabulan oleh empat santriwati tersebut.

Saat wartawan menghubunginya melalui sambungan telepon selulernya dan pesan singat Black Berry Mesengger dua perwira di Polres Serang itu tidak menggubrisnya. (NED/RUL)

Share With:
Rate This Article

Leave A Comment