a
Widget Image
Tantowi Yahya

Soal Insiden Natuna, Pemerintah Beijing kurang Happy dengan Indonesia

SERANG, BANPOS – Hubungan dua negara (RI-China) memanas pasca insiden masuknya kapal penangkap ikan KM Kway Fey 10078 dan kapal coast guard atau keamanan laut milik China ke kawasan perairan Natuna, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (19/3/2016) kemarin.

Bahkan, Komandan Lanud RSN Pekanbaru Masekal Pertama Hendri Alfiandi menyatakan, pihaknya 100 persen siap mengawal kedaulatan NKRI, jika seandainya China mengerahkan pesawat tempurnya.

Atas insiden tersebut, Anggota Komisi I DPR, Tantowi Yahya, menyatakan sangat apresiasi terhadap awak kapal KP Hiu 11 milik Kementerian KKP yang proaktif mencegah pencurian ikan di laut Indonesia, sehingga pemerintah Beijing kurang happy dengan ketegasan Indonesia dalam memberantas illegal fishing.

“Apresiasi saya untuk awak kapal KP Hiu 11 milik Kementerian KKP yang proaktif mencegah pencurian ikan di laut Indonesia. Munculnya kapal penjaga pantai China mengindikasikan pemerintah Beijing kurang happy dengan ketegasan Indonesia dalam memberantas illegal fishing. Beberapa kali kapal-kapal China lolos dari jerat hukum di Indonesia, termasuk yang lalu di Maluku”. Ungkap Tantowi saat dihubungi Bantenpos.co via whatshap, Rabu, (23/3/16).

Kejadian ini hendaknya dijadikan kajian mendalam bagi pemerintah Jokowi terhadap kedaulatan Natuna yang sepenuhnya milik Indonesia.

“Insiden tersebut hendaknya dijadikan kajian mendalam bagi pemerintah Jokowi bahwa pemerintah China yang katanya ingin menjadikan kita sahabat baik, ternyata tidak menghargai kedaulatan kita,” ucap politikus Partai Golkar ini.

Tantowi menambahkan, “Manuver berbahaya itu bisa saja potensi untuk menarik Indonesia ke konflik Laut China Selatan (LCS), namun pesan yang dikirim ke Jakarta lebih pada psy war agar Indonesia tidak terlalu aktif sebagai non claimed state di LCS. Selama ini negara-negara ASEAN mendorong peran aktif Indonesia.

Menyikapi tindakan kapal penjaga pantai China di Laut Natuna, sepatutnya kegiatan patroli di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif ZEE harus ditingkatkan agar eksistensi kita kelihatan.

“Hal lain yang harus diperhatikan terkait insiden di Natuna, bahwa Indonesia harus meningkatkan kegiatan di lautan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) agar eksistensi kita kelihatan. Pihak China awalnya mengklaim sebagian perairan Natuna masuk wilayahnya. Namun setelah protes keras Indonesia, mereka akhirnya mengakui. Itu artinya, titik-titik kosong di lautan harus diantisipasi agar tidak diklaim negara lain”. Ujar Tantowi.(RUL)

Share With:
Rate This Article

Leave A Comment