a
Widget Image
suku baduy, masyarakat kanekes

Suku Baduy Dan Invasi Teknologi

SERANG, BANPOS – Tidak mengenal seperti apa rupa bangku sekolah karena terbentur aturan adat, tidak membuat masyarakat Kanekes atau lebih dikenal dengan Suku Baduy ‘ketinggalan zaman’. Tidak sedikit mereka bisa membaca dan menulis.

Bahkan, Suku Baduy yang tinggal sekitar 100 kilometer dari Ibukota Provinsi Banten ini sudah ada yang menggunakan alat komunikasi telepon seluler.

“Orang Baduy sudah memiliki HP. Dari mana mereka mengetahui huruf dan angka. Saya SMS juga balas. Sebelum program keaksaraan fungsional bermunculan, banyaknya turis telah mendorong inisiatif warga Baduy belajar secara otodidak seiring perkembangan zaman,” ujar peneliti Banten Heritage, Dadan Sujana.

Suku Baduy memiliki dua kelompok, yakni Suku Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaannya terletak dari budaya dan adat istiadat yang mereka anut, meski secara garis besar cenderung sama.

Baca juga : Patung Suku Baduy Jadi Ajang Foto Selfi

Baduy Dalam, hingga saat ini masih memegang teguh kepercayaan dan adat istiadat leluhur untuk tidak menggunakan dan menerima produk kebudayaan dari luar desa, apalagi teknologi.

Sementara, masyarakat Baduy Luar lebih terbuka, mereka sudah mengenal produk-produk berteknologi seperti kipas angin, makanan dalam kemasan dan handphone.

Suku Baduy Luar yang sudah mengenal berdagang, memiliki kemampuan berhitung dan membaca.

“Warga Baduy belajar membaca dan menulis serta berhitung, terutama mereka yang berada di kawasan Baduy Luar,” imbuh Dadan Sujana.

Kendati sudah memiliki kemampuan membaca dan berhitung, perlu proses yang cukup lama untuk memberikan pemahamah dan pendidikan kepada masyarakat Kanekes. Kendala tersebut karena proses pembelajaran tidak dilakukan seperti di sekolah formal, tetapi diajarkan secara perlahan oleh para relawan.

“Jadi memang mereka harus menggunakan persuasif. Tidak bisa mereka dikumpulkan disuatu gedung, di depan papan tulis untuk diajarkan. Sebaliknya, harusnya mereka diajarkan dengan perlahan dan alamiah. Sebab, bagi warga Baduy, bersekolah berarti meninggalkan pekerjaan selama satu hari sebagai mata pencahariaannya. Bagi mereka, kalau tidak digarap satu hari, berarti satu hari tidak makan,” tukasnya. (DIK/EKY)

Share With:
Rate This Article

Leave A Comment