Tantowi Yahya

Tantowi Yahya: Negara-negara Muslim Dunia Perlu Bentuk “Palestine Caucus” di PBB Untuk Kemerdekaan Palestina

JAKARTA, BANPOS – Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) baru saja berakhir, Senin (7/3/2016).

Dalam KTT itu menghasilkan dua dokumen pernyataan sikap terkait situasi yang terjadi di Palestina saat ini. Dokumen pertama berupa resolusi yang menegaskan komitmen OKI dalam mendukung Palestina dan Al-Quds Al-Sharif. Dokumen kedua berupa Deklarasi Jakarta yang memuat langkah konkret guna mendorong terwujudnya perdamaian dalam konflik Palestina-Israel.

Menurut anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya, tanpa langkah yang lebih konkret, dua dokumen yang dihasilkan KTT LB OKI ini tak akan memiliki kekuatan apapun. Negara-negara muslim dunia harus memiliki perasaan kolektif sebagai “satu keluarga”, dengan demikian bila salah satu anggota keluarga (dalam hal ini Palestina) terluka, maka yang lain secara moral dan politik memiliki tanggung jawab untuk membantu.

“Ironisnya, selama ini jangankan membantu kemerdekaan Palestina, antar-negara OKI justru kerap terlibat ketegangan satu sama lain, seperti manuver Arab Saudi dan Iran di Suriah. Kedua negara besar di OKI ini seharusnya bersatu mencari solusi terbaik bagi Suriah yang hancur karena perang saudara. Lebih dari itu, jangan sampai Saudi dan Iran terjebak ke dalam proxy war yang dimainkan US dan Rusia di Suriah.” kata Tantowi, dalam keterangannya, Selasa (8/3/2016).

Politisi Partai Golkar itu, mengatakan, ada beberapa langkah konkret yang sebenarnya dapat dilakukan, seperti meningkatkan hasil kesepakatan KTT LB dari status deklarasi menjadi resolusi. Ia menilai, selama ini sudah berulangkali deklarasi dihasilkan, namun tak ada perubahan yang dihasilkan.

Selanjutnya, seluruh negara OKI perlu membentuk semacam Palestine Caucus di PBB yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Dengan demikian, posisi tawar Palestina di PBB lebih kuat.

“Negara-negara OKI juga harus membentuk semacam Palestine Fund untuk mendukung pembangunan Palestina. Dengan kapasitas sebagian negara OKI yang secara ekonomi menonjol, seperti UEA, Qatar, Saudi, Iran, Bahrain, tentu tak sulit membangun Palestina,” ujar dia.

Berikutnya, negara-negara OKI juga perlu memberikan tekanan yang lebih besar kepada Israel agar keluar dari Palestina.

Sejauh ini, kata Tantowi, masih ada negara-negara OKI yang belum satu suara, bahkan bekerja sama dengan Israel.

“Hal tersebut semakin kuat setelah PM Israel, Benjamin Netanyahu pada 2014 lalu mengklaim banyak negara Timur Tengah yang pro-Israel, baik secara terbuka maupun tidak,” kata dia.

Ia menambahkan, sebagai penyelenggara KTT LB dan negara penduduk muslim terbesar, Indonesia seharusnya mengambil peran yang lebih sentral.

Indonesia dapat menjadi pemimpin OKI dalam melakukan lobi kemerdekaan Palestina di PBB, meskipun akan cukup sulit dilakukan.

“Selama Indonesia selalu bersikap netral dalam politik luar negerinya, maka sulit bagi Indonesia untuk mendapatkan peran lebih dari yang sekarang kita mainkan,” ujar Tantowi.(RUL/NET)

Share With:
Rate This Article

Leave A Comment