a
Widget Image
ilustrasi mayat

Dicari Selama 12 jam, Petani Bojongmanik Tewas Terbenam Di Lumpur

SINDANGRESMI, BANPOS – Seorang petani yang tinggal di Kampung Lewigintung, Desa Bojongmanik, Kecamatan Sindangresmi, Pandeglang ditemukan tewas di sawah dengan kondisi tertimbun lumpur. Peristiwa naas itu baru diketahui, setelah masyarakat setempat melakukan pencarian selama 12 jam. Korban ditemukan sekitar pukul 23.00 WIB, Selasa (19/4/2016).

Kepala Desa Bojongmanik, Sukri mengungkapkan, bahwa korban bernama Armijan (65) merupakan pamannya. Sukri menceritakan, awalnya korban sedang bekerja bersama buruh tani lainnya di sawah, pada saat itu korban tengah melakukan aktivitas penyemprotan hama keong.

Kira pukul 12.00 WIB, sejumlah buruh tani lainnya mengajak korban pulang, karena cuaca mendung dan dikhawatirkan terjadi hal tidak diinginkan. Sebab, beberapa waktu lalu, seorang petani tewas tersambar petir di lokasi tersebut.

“Dia mamang (paman, red) saya, waktu itu lagi marakeun (pengerjaan) tandur sama buruh tani di sawah miliknya. Saat diajak pulang, korban mengatakan tidak akan pulang dulu karena mau melakukan penyemprotan keong di sawah lain miliknya,” ungkapnya kepada BANPOS, Rabu (20/4/2016).

Hingga pukul 17.00 WIB, Armijan tidak kunjung pulang kerumahnya, pihak keluarga pun mulai resah dan khawatir, karena kondisi sedang turun hujan lebat disertai petir. Kerabat yang khawatir, akhirnya memberanikan diri untuk menyusul dan memastikan keberadaan korban, namun sayangnya tiak ada yang ditemukan kecuali peralatan semprotan hama di saung sawah.

Pihak keluarga korban pun memutuskan melakukan pencarian bersama warga lainnya. Sekitar pukul 19.30 WIB, warga pun berbondong-bondong melakukan pencarian di sawah.

“Warga sini sama-sama mencari ke sawah, keadaan waktu itu banjir hingga pinggang. Sebagian warga ada yang pulang karena tidak menemukan apa-apa setelah pencarian berjam-jam, namun sebagan warga tetap melakukan pencarian sampai akhirnya korban ditemukan sekitar pukul 23.00 WIB,” urainya.

Korban ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Mulanya, warga yang menemukan korban mengira jika, kaki korban adalah batang bambu yang tertancap.

“Korban saat itu sudah kaku, entah bagaimana awalnya bisa ditemukan dengan posisi seperti itu. Sementara kami menduga, jika korban masuk angin atau sakit tiba-tiba,” imbunya.

Sukri menambahkan, dalam kurun waktu dua bulan terakhir, ada saja peristiwa yang menyebabkan warganya luka-luka hingga meninggal dunia akibat cuaca buruk. Dia berharap, warganya tidak mengabaikan keselamatan dengan cara menghentikan segala pekerjaan saat cuaca buruk.

“Dua bulan terakhir ini sudah empat orang meninggal dunia, dan enam orang luka-luka. Sebelumnya delapan orang sekaligus tersambar petir yang mengakibatkan dua orang warga tewan dan enam luka-luka, dususul dengan minggu ini ada lagi warga yang meninggal tersambar petir, kemudian Arjan meninggal dalam posisi yang ironis,” pungkasnya. (CR-1/EKY)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment