a
Widget Image
ra kartini

Ini 10 Fakta Tersembunyi Seputar RA Kartini

BANPOS – Raden Ajeng (RA) Kartini bisa dikatakan sebagai salah satu simbol perjuang hak-hak perempuan pada masanya. Dia begitu gigih dalam memperjuangkan kesetaraan gender di Indonesia.

Hal ini yang membuat Presiden Seokarno pada tahun 1964 memberinya gelar pahlawan nasional. Berikut fakta seputar RA Kartini dari berbagai sumber.

1. Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indoensia No 108 Tahun 1964

2. Lewat Kepres itu pula, Soekarno sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

3. Di Belanda, nama RA Kartini diabadikan sebagai nama jalan. Di Ultrecht dan Venlo misalnya, pemererintah setempat menamai jalan Kartinistraat.

4. Sedangkan di Amsterdam, tepatnya di wilayah Amsterdam Zuidoost atau yang lebih dikenal dengan Bijlmer, nama jalannya ditulis lengkap, yakni jalan ‘Raden Ajeng Kartini’. Sementara di Harlem, jalan Kartini berdekatan dengan jalan Mohammed Hatta, Sutan Sjahrir dan langsung tembus ke jalan Chris Soumokil presiden kedua Republik Maluku Selatan.

5. Buku ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’ diterjemahkan dalam bahasa Melayu oleh sastrawan Armijn Pane pada tahun 1938.

6. Sebelumnya, terbit pertama kali dalam edisi bahasa melayu pada 1922 oleh Balai Pustaka. Judulnya, Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Buku ini diterjemahkan Empat Saudara. Satu di antaranya Armijn Pane.

7. Sementara edisi perdananya terbit dalam edisi bahasa Belanda pada tahun 1911 dengan judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

8. Kartini menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 12 November 1903

9. Kartini merupakan istri keempat Adipati Ario. Dari hasil pernikahannya, Kartini dikaruniai seorang anak bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada 13 September 1904.

10. Empat hari kemudian, tepatnya 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. (MAM/JPG/EKY)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment