Ilustrasi

Seorang Warga Meninggal, Diduga Mengalami Kekerasan Oknum Kepolisian

SERANG, BANPOS – Institusi Kepolisian kembali menjadi sorotan, lantaran seorang warga bernama Muhammad Iman Tarjuman (49) meninggal dunia karena diduga mengalami kekerasan ketika dalam proses penangkapan oleh anggota Polres Serang pada Selasa (19/4) lalu.

Peristiwa tersebut bermula ketika lima orang anggota Polres Serang tengah melakukan penangkapan terhadap Muhammad Iman di kontrakannya di Ranca Sawah, Kecamatan Taktakan, Kota Serang.

Istri korban, Siti Masitoh mengungkapkan lima orang yang berasal dari Polres Serang mendatangi kontrakannya, saat itu dirinya sedang berada di dapur dan tiba-tiba mendengar suara berisik di ruang keluarga sekitar pukul 19.30 WIB.

“Suami saya sedang nonton tv, saya mendegar suara dari dari situ, saya sedang memasak di dapur buat makan,”

Mendengar suara keributan, dirinya langsung mendatangi kelima orang tersebut dan menanyakan maksud mereka, namun anggota polisi tersebut melarang siti untuk ikut campur, tidak berhenti sampai disitu siti yang telah mengetahui kelima orang tersebut adalah anggota polisi, langsung menanyakan identitas mereka dan surat perintah penangkapan yang seharusnya diperlihatkan ketika dalam penangkapan.

“Ketika saya tanya surat penangkapannya, mereka menjawab surat ada di mobil,” Lanjutnya.

Dirinya bercerita bahwa korban yang saat itu posisinya sudah tak berdaya menarik tangan korban dan memaksanya keluar kontrakan, ketika itu korban memohon untuk diberikan kesempatan menelfon saudaranya yang merupakan dekan fakultas hukum Untirta, namun anggota polisi tidak menghiraukannya dan memintanya untuk menelphone dijalan saja.

Lantaran korban juga menolak dibawa begitu saja, onkum anggota polres serang melakukan tindalan kekerasan dengan memukul bagian pelipis korban, mendapatkan tindakan kekerasan anggota polres serang tersebut korban langsung lemas tak berdaya.

Ketika itu istrinyapun memperingatkan polisi bahwa korban memiliki rekam mendis penyakit jantung. “Sudah saya ingatkan,” Tuturnya

Tidak sampai disitu, kondiisi tubuh korban yang sudah lemas tidak berdaya di paksa polisi untuk keluar dari rumah kontrakan dengan menyeretnya dan mengikat tangan korban menggunakan sabuk.

Dari belakang istri korban yang masih histeris mengikuti dan memohon agar polisi tidak bertindak kasar pada suaminya yang sudah tidak berdaya. “Suami saya tidak akan bisa melawan,” lanjutnya.

Setelah mendapatkan kekerasan, korban yang kondisinya semakin melemah langsung dibawa kerumah sakit, sementara itu putri korban diminta menandatangani surat yang diberikan oknum polisi tersebut, namun dirinya menolak dan langsung menghubungi keluarganya.

“Pas mau berangkat, surat penangkapan dilempar ke atas kasur dan disuruh tanda tangan. Tapi, saya tidak mau tanda tangan sebelum ketemu kakak ipar saya,” kata Siti Masitoh.

Setelah mendatangi rumah saudaranya, akhirnya kaka iparnya yang mendampingi korban selama dirumah sakit, namun tidak lama dari situ, kaka ipar korban menghubungi bahwa suaminya telah meninggal di Rumah Sakit Drajat Prawiranegara.

Perlu diketahui sebelumnya korban yang memiliki dua orang istri dan enam anak yang masih sekolah tersebut sempat dicari aparat kepolisian karena diduga telah melakukan penipuan dan dotuduh mengelakpan uang sebesar Rp 160 juta untuk penerimaan CPNS. (DIK)
.

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment