a
Widget Image
Titik Nol yang selama ini dikenal, di kawasan Anyer, Kabupaten Serang - Provinsi Banten.

Ups, Titik Nol Kilometer Ternyata Bukan di Anyer

SERANG, BANPOS – Mercusuar di Cikoneng, Kecamatan Anyer yang disebut-sebut sebagai tugu penanda titik nol kilometer pembangunan Jalan Anyer-Panarukan dianggap menyimpang dari sisi sejarah. Titik nol kilometer seharusnya berada di tengah Kota Serang atau lebih tepatnya di depan Kantor Pos Kota Serang.

Hal itu terungkap setelah akademisi STKIP Rangkasbitung, Nely Wahyudin membedahnya dalam “Pengajian Budaya Banten Heritage” di Museum Negeri Banten, belum lama ini. Nely mengatakan, mercusuar di Anyer hanya bisa disebut sebagai titik terluar, karena sejarahnya Anyer terbagi dua wilayah, yakni Anyer Kidul yang terdiri atas daratan dan Anyer Lor yang mayoritas rawa.

“Saya menawarkan hipotesis, titik nol berada di depan Kantor Pos Serang dekat Alun-alun Kota Serang. Kalau pun ada titik di Anyer, itu adalah titik terluar. Sebab tidak ada korelasi antara titik nol kilometer yang dikaji dari sisi sejarah pada zaman Daendels, dengan yang pemerintah tetapkan saat ini sebagai titik nol kilometer di Anyer,” ujarnya.

Menurut Nely, titik nol kilometer yang ditetapkan Daendels di jalan raya pos digunakan untuk kepentingan mobilisasi arus informasi supaya cepat dan massif. Titik nol kilometer di Anyer dipertanyakan keabsahannya berdasarkan kajian sejarah yang panjang. Pentingnya menetapkan titik tersebut, sama pentingnya ketika pemerintah ingin membangun kota yang maju.

“Titik nol menentukan arah untuk bagaimana membangun suatu daerah, karena titik tersebut adalah logika dasar yang digunakan oleh para ahli planologi. Disebut juga sebagai logika radial, karena titik nol adalah titik tengah tempat bersinggungan semua gerak dari segala arah,” ucapnya.

Nely menambahkan, titik nol disebut juga logika sentral. Di mana titik tersebut menandakan penguasa utama itu berada. Maka tidak heran, ketika gedung pendopo lama ditaruh tepat di depan Kantor Pos Kota Serang. Dalam ilmu Jawa Kuno disebut hasta brata, titik yang membagi delapan arah penjuru angin.

“Presiden RI kedua, Soeharto menggunakan hasta brata untuk memperkokoh pemerintahannya. Banyak makna yang dapat diambil dari titik nol kilometer. Jika saja pemerintah ingin memindahkan titik tersebut, dampaknya akan begitu luar biasa. Sayangnya, kesalahan titik nol yang ditetapkan di Anyer tidak ada pihak yang bisa bertanggungjawab,” tambahnya.(CR-3)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment