a
Widget Image
Adam Adhary

Bangga Mendengar “Banten” Saat Landing

“Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Perbedaan waktu antara Balikpapan dan Jakarta adalah 1 jam. Kami persilahkan kepada anda untuk kembali ke tempat duduk anda masing-masing, menegakan sandaran kursi, menutup dan mengunci meja yang masih terbuka di hadapan anda, dan mengencangkan sabuk pengaman,” demikian suara merdu pramugari maskapai Lion Air, akhir pekan lalu, seperti diceritakan seorang sahabat yang baru pulang dari tugasnya di Balikpapan.

Kebanggaan seorang sahabat yang bertugas pada Badan SAR Nasional di Kalimantan Timur ini mengingatkan saya, yang pernah bermimpi beberapa tahun silam. Saya lupa tanggal dan harinya, namun saat itu ada kunjungan Komisi VIII RI ke Pendopo Gubernur Banten. Kala itu, Ratu Atut Chosiyah, masih menjabat Gubernur Banten.

Saat sesi tanya jawab dibuka, kala itu saya melontarkan sebuah mimpi, tentang keinginan nama Banten disebut saat pesawat landing di Bandara Soekarno-Hatta. Karena yang saya tahu, Bandara Soekarno-Hatta berada di wilayah Banten. Tapi, anehnya yang disebut-sebut malah Cengkareng-Jakarta.

“Selamat Datang di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jakarta”, demikian kalimat yang membuat saya gelisah.

Puas tak puas, jawaban wakil rakyat kala itu menyatakan jika itu sudah menjadi SOP (Standar Operasional Prosedur, red) PT. Angkasa Pura II, dan sulit untuk diintervensi. Kendati pada pangkal kalimat, mengaku akan membawa hal itu ke Jakarta, dan menjadi materi yang akan disampaikan kepada instansi terkait.

Waktu berganti. Bertahun-tahun berlalu, Banten tak kunjung disebut-sebut saat landing. Wakil rakyat di DPR RI pun telah berganti. Banten tak pernah mengudara, layaknya wilayah-wilayah lain tempat berdirinya sebuah bandara. Padahal hampir disetiap Bandara tanah air dimanapun, nama daerah selalu di sebut. Misalnya, Bandara Sepinggan, Balikpapan atau Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali.

Mimpi ini pun sempat saya tuliskan dalam sebuah catatan tentang kegelisahan saya yang menginginkan nama Banten disebut acapkali pesawat landing. Dalam catatan kecil itu saya pun menuangkan kegelisahan lainnya, saat larangan merokok (Perda DKI) diberlakukan di Bandara Soeta.

Bukan soal larangan merokok yang saya persoalkan, tapi Perda itu diberlakukan di wilayah teritorial luar DKI. Bagaimana mungkin Perda DKI diberlakukan di Banten.

Dalam catatan saya, sekitar Februari 2005, Kurdi Matin masih menjabat Kepala Biro Humas Setda Provinsi Banten melayangkan protes, tentang diberlakukannya Perda Larangan Merokok di Bandara Soeta. DKI pun dituding, ada upaya ke arah pencaplokan wilayah Bandar Udara Soekarno-Hatta berkaitan dengan larangan merokok pada Perda yang diberlakukan Pemprov DKI Jakarta.

Namun, catatan kecil itu tak ubahnya sebutir gula dalam wajan besar berisi air. Tak memberikan rasa, apalagi merubah air tawar menjadi manis. Tapi saya tetap bermimpi, semoga saatnya tiba, mimpi saya menjadi kenyataan.

Bisa jadi ini bukan hanya mimpi saya, tapi mimpi sebagian masyarakat Banten yang juga memiliki kegelisahan yang sama seperti saya. Soal Perda larangan merokok yang diproduksi DKI, akhirnya terklarifikasi dengan sendirinya. Karena memang Bandara Soeta berada di tanah Banten. Suka atau tidak suka, itulah faktanya.

Desember 2015 lalu, dua bulan setelah Banten merayakan Ulang Tahun ke-15 kado istimewa itu datang. Pihak Angkasa Pura II mengabulkan keinginan Pemprov Banten dan Pemkot Tangerang, untuk merubah SOP saat landing. Kini Banten telah “diakui”.

Dalam keterangan resminya, PT Angkasa Pura (AP) II menyatakan telah mengeluarkan surat edaran kepada semua maskapai agar mengubah penyebutan kalimat selamat datang di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, bukan seperti biasanya, disebutkan Cengkareng, Jakarta. Imbauan PT AP II itu telah dikirimkan kepada maskapai-maskapai pada 28 Desember 2015 lalu.

Direktur Utama PT Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi menyatakan, semua maskapai yang akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta harus mengubah kalimat pengumuman dari “Selamat Datang di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, Jakarta” menjadi “Selamat Datang di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, Banten”.

Menurut Budi, alasannya karena memang sebenarnya Bandara Soeta tidak berada di Jakarta, tapi di Tangerang, Banten. Sementara Jakarta juga sudah punya bandara sendiri, yaitu Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. “Alasannya satu kelaziman dalam penggunaan nama daerah begitu diucapkan,” kata Budi.

Saya berbaik sangka, jika Bandara Soeta berada di Banten disadari, setelah berpuluh-puluh tahun berdiri. Bandara Internasional Soekarno-Hatta dibangun di wilayah Kecamatan Benda, Kota Tangerang, sejak 1981 dan rampung tahun 1984.

Namun sejak berdiri, Bandara paling sibuk di nusantara ini terkesan milik Jakarta. Dalam SOP saat landing, pun kerap menyebutkan Cengkareng, subdistrik di Jakarta Barat yang berdekatan dengan bandara. Konon, dari Bandara Soeta ini, tak ada kontribusi yang dinikmati wilayah Kota Tangerang dan Banten, selaku pemilik teritorial.

Kembali pada fakta yang membanggakan, yang telah berjalan sejak Januari 2016 lalu. Memang tak banyak berubah, kalimat rutin yang disampaikan pramugari saat pesawat landing di Bandara Soeta. Hanya penyebutan wilayah, yang semula Jakarta, kini menjadi Tangerang, Banten.

Penyebutan ini sekilas, tampak biasa-biasa saja. Terutama bagi penumpang yang tidak memiliki rasa memiliki terhadap Banten. Tapi diyakini penegasan tentang disebutnya Tangerang, Banten pada Bandara terbesar di negeri ini akan berdampak besar terhadap Tangerang maupun Banten.

Apapun yang terjadi saat ini, telah membuat saya merasa bangga. Bahwa Tangerang, Banten, setiap saat mengudara di dalam pesawat. Walau sebagian besar masyarakat Banten tak pernah mendengarnya. Namun, semoga tak ada lagi warga luar Banten yang mengaku belum pernah ke Banten, tapi hampir setiap bulan menginjakan kaki di Bandara Soekarno-Hatta.(*)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment