a
Widget Image
Noviyanti Hayattul Fahad, Bidan Teladan

Enggan Dipanggil Bidan Teladan

PANDEGLANG, BANPOS – Menjalani Profesi sebagai bidan memang tidaklah mudah seperti membalikan sebuah tangan. Dibutuhkan keahlian dan kesabaran dalam menjalani profesi tersebut, karena dapat dikatakan mempertaruhkan nyawa seseorang.

Noviyanti Hayattul Fahad, salahsatu Bidan yang berada di Desa Banyuresmi, Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, disebut-sebut sebagia bidan teladan.

Predikat sebagai bidan teladan melekat pada diri Novi bermula ketika kompetisi bidan se-Pandeglang yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pandeglang, dimana Novi keluar sebagai juara pertama bidan teladan.

Keberhasilannya meraih predikat bidan teladan bukan tanpa alasan, dia mengikuti sejumlah tes dan seleksi yang mencakup tes tulis, wawancara bahkan disurvey langsung ke lokasi tempat dia menjalani profesi bidan desa.

Namun, Novi enggan dipanggil bidan teladan. Menurut Novi, banyak sekali bidan di Pandeglang yang lebih banyak pengorbananya ketimbang apa yang ia lakukan, bahkan dia meyakini dari 700 bidan yang ada di Pandeglang, sangat banyak yang tinggal di pelosok desa dengan segala halang rintang, untuk membantu pasien.

Dicontohkan olehnya, seorang bidan harus melewati sungai dan jalan rusak untuk sampai ke rumah pasien.

Dia merasa termasuk dalam kategori bidan yang tinggal di tempat yang cukup baik, selain infrastruktur yang tidak terlalu rusak, warga setempat dirasa familiar dan menyambut baik dengan tindakan dan gagasan yang sering dibawa oleh Novi.

Missal, kata Novi, dia sebagai bidan tidak hanya melakukan tugasnya secara medis. Tapi dia merasa ada tugas lain yang harus sinergi dengan masyarakat diantaranya sinergisitas dengan paraji di desa tersebut.

Bahkan saat BANPOS datang ke tempatnya, yaitu di Poskesdes Desa Banyusari, seorang paraji menemui Novi untuk memberi kabar jika ada warga yang sudah mulas-mulas hendak melahirkan, ini mendandakan jalinan antara bidan Novi dengan paraji di desa itu cukup baik dan sinergi.

Novi mengaku betah selama dia ditempatkan di Banyuresmi sejak tahun 2011, bahkan dedikasi dan pengorbanannya membantu persalinan secara medis, memunculkan ambisi baru untuk menyadarkan masyarakat peduli terhadap kesehatan pada masa mengandung sampai persalinan.

“Saya berambisi pak, supaya masyarakat datang ke poskesdes untuk mendapatkan konseling dan pelayanan, bukan lagi bidan desa yang datang ke rumah-rumah ibu mengandung,” kata Novi bergebu-gebu dan yakin inovasinya akan terlaksana.

Disamping itu, soal predikat yang diperolehnya sebagai bidan teladan, dia juga menanti pengumuman hasil kompetisi bidan tingkat provinsi. Dia berharap makalah yang dipresentasikan pada saat kompetisi bisa menjadi acuan dan lolos sebagai juara satu sebagaimana diperolehnya ditingkat kabupaten.

Mulanya pada saat kompetisi di Pandeglang, Novi secara sederhana membahas dalam makalahnya tentang persalinan, namun saat diminta presentasi di Provinsi, makalahnya lebih diperkaya dengan judul: Meningkatkan Cakupan Persalinan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Poskesdes Banyuresmi melalui Desa Siaga dan Kemitraan di Wilayah UPT Puskesmas Jiput.

Bidan cantik kelahiran Bandung tahun 1989 ini, Nampak bersungguh-sungguh membangun kesehatan masyarakat, karena bukan sekedar menjalankan tugas sebagai bidan, namun banyak melahirkan inovasi untuk desa Banyuresmi terkait pelayanan terhadap masyarakat.

Diantara inovasi yang diciptakannya yaitu, menjadikan Desa Banyusari sebagai desa siaga, yang mana perannya sebagai bidan siap untuk siaga 24 jam melayani persalinan.

BANPOS melihat, terpampang keterangan tentang pelayanan 24 jam di pintu Poskesdes Banyuresmi. Ini dimaksudkan, Poskes tersebut siap melayani persalinan dan konsultasi selama 24 jam, itulah diantaranya yang menjadikan Novi sebagai bidan teladan Pandeglang.

Inovasi lain yang dibuatnya yaitu menjadikan desa tersebut sebagai tempat yang peduli terhadap remaja dan lansia. Format ini juga dipampang di halaman poskesdes guna diketahui, poskesdes siap melayani konsultasi dan pelayanan kesehatan tidak hanya dikalangan ibu hamil, namun mulai dari remaja dan lansia.

Terkait pelayanan kesehatan oleh bidan, Novi memahami dikalangan masyarakat perlu pendekatan persuasif, terutama menyikapi masyarakat yang tidak memahami kondisi yang sedang dialami.

Seorang bidan, kata Novi, harus tegas dan mampu memberi penjelasan secara lugas kepada masyarakat. Namun kepiawaian tegas dan lugas juga perlu diiringi jiwa pengorbanan yang tinggi.

“Pak, Bidan itu tidak mengenal waktu. Seandainya ada pasien bangunin kita tengah malam, meski kondisi tubuh capek, maka harus jalan datangi pasien itu. Perlu juga ketegasan saat memberikan arahan kepada ibu hamil dan melahirkan, untuk melakukan langkah yang benar saat persalinan,” ujar Novi kepada BANPOS.(YOG)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment