a
Widget Image
Ustad Solmed

Masyarakat dan Solmed Disarankan Bermusyawarah

SERANG, BANPOS – Kisruh antara masyarakat Pasauran, Cinangka, Kabupaten Serang dengan Ustadz Solmed belum menemukan ujung yang jelas. Keduanya memiliki pendirian masing-masing. Sementara, beberapa tokoh agama saat dihubungi BANPOS, bersepakat agar kedua belah pihak bermusyawarah supaya masalah dapat diselesaikan.

Ketua Majelis Pesantren Salafi (MPS) Banten, Matin Syarkowi menyayangkan masalah ini terus berkepanjangan dan tidak menemukan ujung yang jelas. Kasus ini bukan untuk lelucon. Ia memahami kekecewaan masyarakat karena tanggungjawab moril sebagai panitia, tapi semuanya harus saling menyadari.

“Malu lah, masa yang kaya gini saja harus panjang. Apa yang ingin dicari dari masalah seperti ini. Saya kira banyak permasalahan yang harus dicarikan solusinya ketimbang memperpanjang urusan ini,” ujarnya ditemui BANPOS, Jumat (20/5).

Sekjen MUI Kota Serang, Amas Tajudin juga prihatin atas perseteruan Solmed dan masyarakat Pasauran. Persoalan tersebut harusnya tidak menjadi besar. Dari persoalan ini, masyarakat bisa belajar ketika mencari penceramah tidak usah yang jauh dan memiliki jadwal padat. Apalagi penceramah bertarif.

“Pemicu kasus ini kan, karena adanya kesepakatan tarif. Lalu, pihak penceramah datang ketika hadirin sudah bubar. Akhirnya timbulah ketidakpuasan dan berujung kisruh karena merasa ada kesepakatan yang dibuat. Pemicunya kan disitu. Kalau panggil ceramah tidak usah yang terlalu banyak jadwalnya,”

Amas juga menghimbau, agar mubaligh yang memiliki jadwal padat dan banyak tawaran ceramah dimana-mana, ketika dipanggil untuk mengisi ceramah dengan waktu yang berbarengan tidak usah diterima. Kalau dipaksakan dalam sehari ada tiga hingga empat tempat yang didatangi, diprediksi akan timbulkan masalah utamanya waktu berceramah.

“Jangan sampai merembet kepada komersialisasi penceramah. Saya sarankan agar kedua belah pihak berdamai. Solmed juga harus mau. Saya jamin namanya tidak ada rusak apalagi popularitasnya turun. Legowo lah. Jangan saling tuntut karena sikap legowo itu sudah sangat bijak. Sebab, akar masalah ini hanya kekecewaan saja. Nanti ujung-ujungnya citra mubaligh sendiri yang akan rusak,” imbaunya.

Presidium FSPP Banten, Ahmad Matin Jawahir menyarankan, agar masyarakat Pasauran dan Solmed harus berinstropeksi diri. Apabila awalnya peringatan Isra Mi’raj untuk meningkatkan iman dan Islam, serta mempelajari proses perjalan Rasulullah, Muhammad SAW, masyarakat diminta untuk tidak berlebihan.

“Kita harus pahami, apa itu makna dari peringatan Isra Mi’raj. Orientasinya harus pada Iman dan Islam, bukan pada publik figur. Sering kali, kita salah memahami dalam peringatan hari besar Islam. Saya juga menghimbau agar masyarakat yang ingin undang penceramah tidak mengambil, penceramah yang jadwalnya padat karena berpengaruh pada waktu kedatangannya,” ujarnya.

Menurut Matin, keduanya harus instropeksi diri, jangan saling paksakan kehendak. Kondisi yang seperti ini, harus saling bertemu untuk agar sama-sama paham. Masyarakat dan Solmed, kalau mau bertemu dengan kepala dingin dengan kondisi tenang tidak disertai rasa amarah.

“Saya pikir ini jelas merugikan kedua belah pihak. Pada akhirnya Islam sendiri yang tercoreng, namanya. Padahal Islamnya sendiri tidak membenarkan hal itu,” katanya. (SUF)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment