a
Widget Image
Ilustrasi pembebasan lahan

Sejumlah Warga Pasirtenjo Protes Soal Pembebasan Lahan 170 Ha

PANDEGLANG, BANPOS – Warga Desa Pasirtenjo protes karena 170 Ha lahan tidur di desanya dimonopoli oleh investor tak dikenal. Wacana pembebasan lahan yang telah ramai sejak beberapa bulan, ternyata setelah dilakukan investigasi oleh aparat desa setempat, sertifikat tanah sudah dibawa oleh pihak investor.

Hal itu dikatakan Kaur Pemerintahan Desa Pasirtenjo, Mugia Rahayu kepada BANPOS, Rabu (4/5) saat ditanya tentang wacana pembebasan lahan di desanya.

Dia mengatakan, pembebasan lahan belum dilaksanakan, investor baru mengambil sertifikat tanah warga, dengan ganti rugi yang belum jelas.

“Warga dipintai tandatangan sebagai kesepakatan menjual tanah kepada pihak investor bernama Ali Muktar, kalau tidak salah dia orang Cilegon,” kata Mugia.

Setidaknya ada 98 sertifikat yang sudah diambil investor, dengan janji akan mengganti rugi sesuai dengan luas lahan. Mugia hanya tahu ada warga yang sudah menerima uang sebesar Rp50 juta sekitar 10 orang, dan warga lainnya hanya DP sebesar Rp5-Rp6 juta.

“Masalahnya aktifitas ini (pembebasan lahan, red) tidak ada koordinasi dengan pihak desa, lantas kalau dikemudian hari terjadi masalah, siapa yang bertanggung jawab? Desa juga pasti kebawa-bawa,” katanya.

Sebagian warga Pasirtenjo mempertanyakan masalah tersebut kepada pihak aparat desa, sementara tidak pernah ada koordinasi antara investor dengan pemdes setempat.

Menurut Mugia, hal itu bukan hanyak terjadi di desanya, namun sejumlah desa yang ada dilingkungan perkebunan PTPN VIII mengalami nasib sama, dia juga menduga ada main antara pihak PTPN VIII dengan investor yang akan menyerobot lahan masyarakat itu.

“Sebagian besar lahan masyarakat yang diambil sertifikannya adalah warga yang pernah terlibat dengan perkebunan PTPN VIII sebagai mitra kerja. Jadi, yang ada di BRI ditebus oleh investor melalui orang PTPN dan surat persetujuan dari pemilik sertifikat,” ujar Mugia yang juga istri dari Kades Pasirtenjo.

Terkait pembebasan lahan, ada mediator investor yang mengurus di desanya dengan bekal Rp8,7 miliar dana dari investor untuk melancarkan proses pembebasan lahan.

“Uang Rp8,7 miliar itu untuk urusan pembebasan lahan di Pasirtenjo. Kami juga melakukan upaya pengaduan kebeberapa pihak guana meminimalisasi terjadinya konflik dikemudian hari,” lanjut Mugia. (CR-1)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment