a
Widget Image
Ilustrasi

Takut DBD, Warga Sindangresmi Minta Fogging

SINDANGRESMI, BANPOS – Serangan nyamuk sering membuat kesal, bahkan sebagian masyarakat khawatir banyaknya nyamuk bisa mengakibatkan DBD. Sehingga, warga meminta pemerintah melakukan upaya mengusir nyamuk seperti fogging. Diketahui, selama 2016 ada empat orang terjangkit DBD di Sindangremi.

“Kami mau mengajukan fogging ke puskesmas, serangan nyamuk cukup luar biasa, kalau dibiarkan bisa jadi warga terkena DBD. Maka harapan kami pemerintah tidak tinggal diam, lebih baik bantu masyarakat melakukan pencegahan sebelum terjadi kasus DBD,” kata Dani (27) warga Kampung Pilar, Desa Campakawarna, Kecamatan Sindangresmi, Selasa (24/5) di kediamannya.

Menurut dia bukan hanya di kampungnya yang banyak nyamuk, namun hampir semua kampung di Sindangresmi mengalami hal sama. Itikadnya mengajukan fogging merupakan bentuk kehawatiran dengan kejadian kasus DBD yang terjadi di Sindangresmi.

“Jangan menunggu mati, tapi kami ingin pemerintah bersama-sama mendukung. Kalau komunikasi lisan saja sudah dengan pihak perawat di puskesmas, namun belum ada tanggapan yang jelas,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Puskesmas Sindangresmi, Encep Hermawan menerangkan, ada empat kasus DBD sepanjang 2016, hal itu menimpa satu orang warga Desa Pasirdurung, satu Bojongmanik dan dua Ciodeng. Namun tidak ada korban meninggal akibat DBD di Sindangresmi.

“Sebetulnya, banyak nyamuk di Sindangresmi bukan nyamuk yang menyebabkan DBD, namun hanya nyamuk hutan saja. Meski demikian, kami pernah mengajukan fogging, namun belum ditindaklanjuti oleh Dinkes Pandeglang,” kata Encep.

Selain itu, kata dia, ada langkah yang harus dipenuhi untuk mendapatkan fogging dari pemkab, pertama di satu tempat setelah di investigasi ditemukan wabah berbahaya yang bisa mengakibatkan DBD.

Kedua, lanjut Encep, ditemukannya jentik nyamuk penyebab DBD dan selanjutnya dalam radius 200 meter terdapat sejumlah orang sakit panas, selain penanganan secara medis oleh puskesmas, maka akan ditindaklanjuti dengan pengajuan fogging juga.

“Tidak bisa kita serta-merta menajukan fogging, karena mungkin biayanya besar sehingga pemkab belum bisa memberikan fogging ke semua tempat yang diajukan. Misalkan, pemkab hanya menganggarkan untuk 20 lokasi, sementara yang engjukan lebih dari itu,” katanya.

Menurut dia, yang terpenting ada upaya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang aktif dilakukan oleh masyarakat, setidaknya seminggu sekali masyarakat melakukan PSN dengan cara menguras, membersihkan dan membasmi tempat-tempat yang biasa dijadikan sarang oleh nyamuk.

“Tanpa fogging, pencegahan nyamuk penyebab DBD bisa ditangani. Lagi pula upaya puskesmas kepada masyarakat sudah dilakukan, misal anjuran bersih di sekolah, karena nyamuk penyebab DBD menyerang bukan pada malam hari, namun pagi hingga sore hari, kalau nyamuk yang ada di malam hari itu nyamuk hutan yang tidak berbahaya,” kata Encep.(YOG/RUL)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment