a
Widget Image
Dewi Larasati

BAP Anak Buah, Semakin Beratkan Wawan

SERANG, BANPOS – Terdakwa kasus korupsi proyek RSUD dan Puskesmas Tangerang Selatan (Tangsel) tahun 2011-2012 Tb Chaeri Wardana alias Wawan membantah keterangan dari pengurus Kadin Provinsi Banten Tita Rusdinar.

Menurut Wawan, keterangan Tita terkait pengkondisian proyek RSUD dan Puskesmas dikendalikan olehnya sudah dibantah oleh saksi lain. Hal tersebut terungkap dalam sidang di Pengadilan Tipikor Serang, Rabu (15/6/2016). Sidang diketuai oleh majelis hakim Epiyanto dan jaksa penuntut umum (JPU) Kejagung RI Ni Wayan Kencanawati.

“Di BAP (berkas acara pemeriksaan) Tita Rusdinar nomor 12 saya dinyatakan memberikan plotting proyek kepada Dadang Prijatna (Manager Operasional PT Bali Pasific Pragama). Di persidangan Dadang Prijatna sudah mengakui saya tidak membuat plotting. Saya juga tidak pernah rapat dengan Sekda, Kadis di The East (kantor PT Bali Pacific Pragama) membahas proyek,” ujar Wawan.

Wawan mengatakan pengkondisian proyek di RSUD dan Puskesmas bukan merupakan inisiatif dirinya melainkan dari Dadang Prijatna bersama Kepala Dinas Kesehatan Tangsel Dadang M Epid.

“Saya tidak pernah memerintahkan Dadang Prijatna untuk mengamankan proyek tersebut. Itu merupakan inisiatifnya sendiri,” katanya.

Wawan kembali membantah BAP penyidik terkait rapat-rapat yang membahas pengkondisian proyek yang melibatkan Desi Yusandi (perkara diputus), Herdian Koosnadi (perkara diputus) dan Tita Rusdinar. Menurutnya berdasarkan kesaksian saksi di persidangan sejumlah saksi sudah membantahnya.

“Perintah mengadakan pertemuan waktu itu sudah dibantah. Itu inisiatif mereka dari saksi Herdi, Desi. Di Pertemuan Di BSD ada pertemuan Desi membantah, Herdi membantah saya mengatur proyek,” ucapnya.

Seakan ingin lepas dari jeratan dakwaan JPU, Wawan kembali membantah keterangan Nila Suprapto selaku Direktur Guna Karya Nusantara (GKN). Dalam BAP tersebut Nila meminjamkan perusahaan kepada Supriatna Tamara alias Athiam (perkara diputus) setelah berkomunikasi dengannya.

“Saya disebut menguhungi Nila, padahal diakui Athiam dia yang meminjam bendera. Saya juga tidak pernah menelpon Nila dan itu sudah diakui,” katanya.

Perkara kasus korupsi tersebut, rencananya beragendakan keterangan tiga orang saksi BAP dan tiga saksi ahli. Ketiga saksi BAP tersebut ialah pengurus Kadin Banten Tita Rusdinar, Direktur PT Sukalimas Eldika Sabda Lubis dan Direktur PT GKN Nila Suprapto.

Namun ketiganya kembali tidak memenuhi panggilan JPU meskipun sudah dipanggil beberapa kali. Rekomendasi ketua majelis Epiyanto agar saksi tersebut hadirkan dengan panggilan paksa ditolak oleh JPU. Oleh karenanya disepakati ketiga saksi tersebut dibacakan BAP yang kemudian ditanggapi terdakwa Wawan.

Setelah menanggapi BAP tersebut, persidangan kemudian dilanjutkan dengan keterangan dari saksi ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Dewi Larasati. Selaku ahli arsitektur dan mekanikal Dewi membenarkan pengerjaan proyek RSUD dan Puskesmas tersebut bermasalah.

Berdasarkan hasil pengecekan langsung fisik terdapat sejumlah item proyek yang tidak sesuai dengan kontrak. Misalnya pemasangan Closet tidak sesuai dengan kontrak. Juga alat oksigen dan sound system belum terpasangkan.

“Temuannya bermacam-macam salah satunya kabel spesifikasinya tidak sesuai, kemudian lantai tangga, seluruh lantai ruang perawat tidak ada equipment (peralatan) bel yang terhubung dengan perawat tidak ada, soundsistem tidak ada, pekerjaan telepon juga tidak terpasang, IPAL (instalasi pengeloaan limbah)-nya belum dilaksanakan dan banyak yang lain. Kerugian ditaksir lebih dari Rp8 miliar,” katanya. (NED)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment