Ilustrasi

BMKG Pastikan Tak Ada Banjir Rob Susulan Di Cikeusik

CIKEUSIK, BANPOS – Banjir rob di Cikeusik yang mengakibatkan puluhan tempat tinggal warga rusak dan hanyut, kesehatan serta menyebabkan trauma kepada korban banjir tersebut. Kini BMKG meyakinkan, tidak ada lagi banjir rob seperti sebelumnya, karena bumi, bulan dan matahari sebagai benda langit yang menjadi penyebab fenomena tersebut sudah tidak sejajar.

“Puncaknya (rob, red) tanggal 8, 9 dan 10 (Juni, red) sudah dilalui, gelombang yang mulanga tinggi 4 meter saat ini jadi 2,5 meter saja. Ini meripaan fenomena alam yang tidak hanya terjadi di Cikeusik, bahkan daerah lain mengalami hal sama,” kata Kasi Data dan Informasi BMKG Kelas I Serang, Tri Tjahjo kepada BANPOS, Senin (13/6).

Dia menjelaskan, fenomena tersebut sebetulnya sudah diprediksi oleh BMKG pusat dan disampaikan kepada BMKG yang ada di Banten ini. Bahkan tujuh hari sebelum puncak banjir rob, informasi tersebut sudah diketahui oleh pihak BMKG Banten. Namun Tri menduga, informasi tidak maksimal disebarkan oleh pihak terkait.

“Kami menyampaikan informasi kepada pemerintah daerah seminggu sebelum banjir rob di Cikeusik. Karena untuk memberikan informasi ke daerah hingga kecamatan sampai desa kami meminta bantuan BPBD sebgai instansi pemerintah daerah,” katanya.

Menjangkau daerah terpencil seperti Cikeusik, kata Tri, harus dilakukan oleh pemerintah kabupaten dan kota, sehingga upaya warning yang diberikan BMKG maksimal.

“Peran kami terbatas jika harus memberikan informasi ke tingkat desa, koordinasi dengan BPBD yang kami lakukan adalah upaya yang terjalin sejak lama. Jika daerah terpencil tidak mendapatkan informasi, maka pemerintah daerah di kabupaten dan kota yang lebih tahu,” katanya.

Terpisah, Pemkab Pandeglang ikut berdalih soal informasi dan worning kepada korban rob sebelum fenomena alam itu terjadi, sebagaimana Kepala BPBD Pandeglang, Doni Hermawan mengatakan pihaknya sudah mengingatkan kepada camat di tataran gress root agar menyampaikan kepada warga di wilayahnya, bahwa akan ada gelombang tinggi dan cuaca ekstrem.

“Memang biasanya juga begitu, ketika BPBD mendapatkan informasi dari BMKG, maka kami melakukan share info kepada pihak kecamatan. Sampai di situ hendaknya pihak kecamatan meneruskan pesan atau warning yang diberikan BPBD berdasarkan warning dari BMKG,” ujar Doni.

Doni mengaku sudah maksimal melakukan upaya pelayanan kepada masyarakat, sehari sesudah musibah yang dialami warga Cikeusik itu, pihaknya langsung melakukan evakuasi dan membuka posko-posko kesehatan kesehatan dan makan.

“Kami sudah berupaya keroyokan bersama instansi terkait lainnya, Dinkes, Dinsos, Relawan Tagana dari Pemkab Pandeglan dan pemprov. Semua yang berkaitan telah dikerahkan, kita berdoa supaya situasi membaik,” pungkasnya.(YOG)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment