Jatnika Nanggamihardja

Bangun 3.500 Rumah Bambu, Ekspor ke Amerika & Eropa

Jatnika Nanggamihardja, Pejuang Bambu dari Sukabumi (bagian 1)

Bambu sudah menjadi bagian hidup Jantika sejak belia. Lahir di kampung yang dipenuhi kebun bambu, Cikidang, Sukabumi membuatnya makin mencintai tanaman yang sering disebut “rumput raksasa” ini.

Laporan: Rizal Maulana
Wartawan BANTEN POS

Saat sekolah SD di Cibadak, Sukabumi, ia memiliki guru yang seluruh keluarganya perajin bambu. Membuat bakul, kipas nasi, tampan, tempat sampah dan lain sebagainya. Sejak keluar SMA pun, Jatnika memilih menjadi perajin anyam-anyaman bambu.

Dari sana kecintaan terhadap bambu semakin tumbuh. Bambu bagi Jatnika adalah kekayaan alam sekaligus warisan budaya nenek moyang yang harus dilestarikan. Bambu terbaik justru hanya bisa tumbuh di Indonesia. Eropa, Amerika dan Timur Tengah tidak memiliki bambu. Hanya Cina, Jepang dan Vietnam yang bita tumbuh, namun itupun berbeda dengan kondisi di Indonesia.

Sepertinya Jatnika makin tidak bisa terlepas dari bambu. Pada tahun 80-an ia mengembangkan kemampuanya membuat mebel atau furnitur berbahan bambu. “Sepertinya bambu itu selalu mengikuti saya sejak kecil,” ungkapnya saat ditemui BANTEN POS di kediamannya, Perumahan Cibinong Indah, Bogor baru-baru ini.

Sejak itu Jatnika bertekad bambu harus naik kelas. Bukan hanya dianggap barang murahan. Ia terus berinovasi membuat model-model baru furnitur. Inovasinya ia sebut model dolos. Ada kursi malas, kursi tamu, dan tempat tidur. Produk dijual di sekitar Jawa Barat dan Jakarta. Responnya ternyata sangat baik.

Sukses dengan model dolos. Ia berinovasi dengan model baru yang disebut purus. Berkat kegigihannya, produk mebel Jatnika menyebar luas. Permintaan tidak lagi di dalam negeri. Sejumlah negara seperti Itali, Spanyol, Belanda, Asia, Timur Tengah hingga Amerika pernah menjadi tujuan ekspor mebel bambu Jatnika.

“Saya pernah ekspor ke Taiwan 4 tahun lamamya. Lalu ke Los Angeles Amerika dan Abu Dhabi mengirim meubeul bambu,” papar Jatnika.

Setelah mengembangkan mebel, sekitar 1986 pria humoris ini mulai mengembangkan pembuatan cottage bambu. Berkat inovasinya ia mendapat order besar untuk pertama kalinya dari Pertamina membuat cottage di Bali. Hingga kini, peristiwa itu tak pernah ia lupakan.

Kreativitas Jatnika pun semakin terasah. Ia tertantang untuk mengembangkan model saung bambu. Konsep yang dibuat awalnya hanya bagian dari dekoratif salon, restoran atau perkantoran. Tetapi makin lama banyak permintaan untuk membuat saung full. Jika dihitung, menurut Jatnika, sejak 1986 hingga 1989, ia sudah membuat 300 saung bambu.
Order besar pun terus mengalir. Pada tahun 1990 ia mendapat permintaan membuat restoran full dari bambu di Margajaya, Bekasi. Di sana ia membangun 17 saung bambu di lahan seluas 2 hektare.

Bahkan pada 1995, saat mengikuti pameran di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, ia mendapat order rumah bambu sebanyak 1.300 rumah. Hingga 2011, pesanan itu belum seluruhnya terpenuhi. Pada 2005, order besar datang dari Malaysia. Order diperoleh saat mengikuti pameran di Balai Sidang Jakarta atas undangan Angkasa Pura II sebagai mitra binaan. Di sana stand pamerannya dikunjungi orang-orang malaysia. Mereka sangat tertarik dan mengapresiasi desain rumah bambu gaya Jatnika.

Saat itulah, mereka langsung meminta Jatnika membangun 300 rumah bambu di negeri Siti Nurhaliza itu. Rumah itu dibangun di kawasan Hulu Langkat, Tanjung Karang, dan Sepang Malaysia. Sejak itu, produk rumah bambu Jatnika makin terkenal di Malaysia bahkan ke Brunei. Pada 2011, salah satu menteri Malaysia datang ke Cibinong untuk berdiskusi berbagai perkembangan bambu.

“Alhamdulillah jika dihitung sejak tahun 1985 hingga sekarang sekitar 3.500 rumah bambu sudah saya bangun. Buat saya yang paling membanggakan bukan soal kompetensi membuat rumah, tapi soal pelestarian budaya bambu,” tegasnya.

Hak Paten Tiga Produk Bambu Jantika sering menyebut dirinya pengrajin bambu. Baginya, sebagai pengrajin maka harus melahirkan karya-karya seni dari bambu. Hal itu pun dibuktikannya dengan berhasil menjadi juara dunia pada festival bambu tingkat dunia di Tokyo 2013 silam.

Ia menjuarai festival tersebut karena mampu mengasilkan 1.500 produk seni dan perkakas dari 700 batang bambu. Sedangkan Cina yang sering disebut negeri tirai bambu, hanya mampu melahirkan 29 produk.

“Saya membuat boboko, tolok, sunung, bongsang, rancatan, alat seni angklung, calung, alat-alat olahraga seperti lompat jauh, dan sebagainya. Kita buktikan bahwa budaya bambu Indonesia jauh lebih tua ketimbang negara lain,” paparnya penuh semangat.

Berkat perjuangannya, Jatnika juga sudah memegang tiga hak paten atau hak kekayaan intelektual untuk urusan bambu. Pertama, rumah bambu semi permanen. Kedua, rangka sepeda bambu bersuspensi, dan terakhir alat olahraga dari bambu. Bahkan, rangka sepeda bambu sudah diakui kualitasnya oleh Jepang.

Di workshopnya Rumah Bambu di Cibinong, kini sejumlah pemuda sudah ahli dalam membuat rangka sepeda bambu. Mereka bekerja jika ada pesanan khusus. Harganya pun cukup mahal. Satu frame sepeda fixi dibandrol Rp11 juta. Sedangkan untuk frame MTB dibandrol Rp15 juta. (bersambung)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment