a
Widget Image
Samira Dial Megistra

Puasa 21 Jam dan Tidak Pernah Mendengar Kumandang Adzan (Bagian 2)

Menjalani puasa di negeri minoritas muslim selain tidak ada semarak Ramadan dan salah satu pembeda adalah soal waktu berpuasa. Jika di Indonesia atau negara di garis katulistiwa, waktu berpuasa rata-rata 12-13 jam, maka di negara yang pernah berfaham komunis itu membutuhkan waktu 21 jam untuk berpuasa.

“Puasa di sini (Rusia, red) bisa sampai 21 jam dan akan lebih lama untuk kota di bagian utara,” kata mahasiswi jurusan Oil and Gas Engineering, Saint Petersburg Mining University ini.

WNI asal di Ciputat, Tangerang Selatan ini mengatakan, waktu puasa di Rusia lebih lama dikarenakan siang hari lebih lama dibanding malam hari.

Matahari terbit, sambung Samira, sekitar pukul 02.30 pagi dan matahari baru terbenam atau waktu magrib sekitar pukul 22.30 malam.

“Buka puasa sekitar jam 11 malam dan imsak jam 3 pagi. Di antara waktu yang singkat itu saya harus makan (buka puasa, red), salat magrib kemudian disambung isya dan tarawih, terakhir sahur dan salat subuh,” beber alumnus MAN 4 Jakarta ini.

Salah satu yang menjadi kerinduan akan Ramadan adalah pada tradisi merayakan bulan suci di Tanah Air. Sebab, di negeri yang dipimpin Vladimir Putin ini tidak memiliki tradisi merayakan Ramadan.

Termasuk soal makanan, tidak ada yang istimewa selama Ramadan di Rusia. Samira, biasa memenuhi kebutuhan pokok dengan berbelanja ke minimarket atau supermarket di Kota Petersburg.

“Tidak ada makanan khas Ramadan. Makannya sama seperti hari-hari biasa, roti, wafer, donat atau kurma yang bisa dijumpai selama Ramadan,” ucap wanita berambut panjang ini.

Menurutnya, meski berpuasa di negeri berpenduduk mayoritas Kristen Ortodok, namun mereka sangat toleran. Bahkan, warga mayoritas menanyakan apakah tujuan puasa dan apakah puasa tidak mengganggu kesehatan.

“Selama puasa banyak hal yang terjadi, seperti makin respect-nya orang sekitar, karena melihat saya tidak makan dan minum. Mereka tanya ngapain puasa, memang tidak capek? Dan mereka tanya juga nanti sakit lho,” beber Samira menirukan sejumlah pertanyaan rekannya yang non muslim.

Untuk mendapatkan suasana Ramadan, biasanya Samira bersama mahasiswa muslim lainnya mengadakan pertemuan di mess. Dalam pertemuan itu biasanya mahasiswa yang dituakan akan diminta memberi ceramah keagamaan dan mengaji bersama.

“Untuk Kultum (kuliah tujuh menit, red) tidak ada jelang waktu berbuka puasa, karena memang masjid sangat jarang. Paling kita mahasiswa muslim kumpul untuk buka puasa bersama dan mahasiswa yang dituakan untuk memberi ceramah singkat,” tukasnya.

Menjalani puasa di Rusia, selain terdapat perbedaan waktu dan tradisi dengan Indonesia. Cuaca di Rusia saat ini pun cukup panas. Sebab, Juni sudah masuk musim panas dengan suhu maksimal 30 derajat celcius.

Sementara untuk Kota Petersburg yang lebih dekat dengan laut Finlandia sedikit lebih dingin, karena ada tiupan angin laut.

“Terkadang di sini (Kota Petersburg, red) kalau sudah panas, panasnya banget. Tetapi cuaca lebih sering panas ditambah hembusan angin dingin, jadi kaya panas dingin gitu,” cerita Samira.

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment