a
Widget Image
Samira Dial Megistra

Puasa 21 Jam dan Tidak Pernah Mendengar Kumandang Adzan (Tamat)

Ditanya soal Rusia yang identik dengan komunisme dan anti Tuhan, Samira menjelaskan, negara dengan ibukota Moskwa itu tidak seperti bayangan masyarakat luar. Saat ini ia melihat Rusia bukan lagi negara komunis karena faham komunis sudah runtuh seiring jatuhnya Uni Soviet.

“Masyarakat Rusia itu adalah masyarakat yang beragama, mayoritas adalah Kristen Ortodoks. Di seluruh tempat di sini selalu ada bangunan tempat beribadah (gereja, red), Islam sendiri termasuk agama besar meski populasinya tidak banyak,” terangnya.

Meski Islam adalah minoritas di Rusia, namun warga Indonesia patut berbangga karena di Saint Petersburg berdiri megah Masjid Biru. Masjid Biru sangat terkenal di Rusia, lantaran masjid itu dibangun atas sumbangan Presiden Indonesia pertama, Soekarno.

“Masjid Biru sangat terkenal, karena Presiden Soekarno menyumbang pembangunan masjid itu. Bahkan kebanyakam orangtua muslim di sini sangat mengenal sosok Soekarno,” ucap gadis yang mulai menetap di Rusia sejak akhir 2014 itu.

Sementara untuk kota yang memiliki populasi muslim lebih banyak dibanding kota lainnya di Rusia adalah Kota Kazan. Bahkan kota di wilayah selatan itu cukup banyak berdiri masjid dan aktivitas umat muslim cukup terasa.

Meski sudah dua kali Ramadan berada di Rusia, Samira belum pernah merasakan suasana Idul Fitri di negeri yang berbatasan dengan Asia Tengah itu. Biasanya, sepekan sebelum Idul Fitri ia mudik ke Indonesia.

“Tahun ini juga saya mudik ke Indonesia dan merasakan hari raya itu paling pas Idul Adha, karena kalau Idul Fitri pasti pulang. Ini juga tidak sabar untuk kembali ke Indonesia,” tukasnya. (*)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment