a
Widget Image
Ketua LPA Banten, Iip Syafruddin / RULIE

LPA Banten: Hampir 90% Pelaku Kekerasan Terhadap Anak Dilakukan Orang Dekat Korban

SERANG, BANPOS – Segala bentuk kekerasan memang tidak dapat dibenarkan, terlebih jika kekerasan tersebut dilakukan pada anak yang masih dibawah umur. Pada tahun 2015, Komnas Perlindungan Anak Indonesia, menempatkan Provinsi Banten di urutan ke 13 dengan jumlah kekerasan terhadap anak paling banyak, yakni dengan jumlah korban kekerasan sebanyak 378 anak.

Ketika Bantenpos.co menemui Ketua LPA Banten, Iip Syafruddin, di kantor LPA Banten, Kota Serang, mengungkapkan kasus kekerasan seksual terhadap anak di Banten lebih tinggi dibandingkan kasus kekerasan jenis lainnya seperti kekerasan fisik, anak terlantar, dan eksploitasi terhadap anak. Selasa, (2/8/2016).

Sampai pertengahan tahun 2016, yaitu akhir Bulan Juli. Jumlah kasus yang terlapor berdasarkan laporan di LPA Provinsi Banten mencatat sebanyak 66 kasus telah terjadi kasus kekerasan yang melibatkan anak-anak, dimana sebanyak 22 anak (33,33%) terlapor pada Januari, 13 anak (19,69%) terlapor pada Februari, 2 anak (3.03%) terlapor pada Maret, 1 anak (1.51%) terlapor pada April, 2 anak (3.03%) terlapor pada Mei, 21 anak (31.81%) terlapor pada Juni, dan 5 anak (7.57%) terlapor pada Juli 2016.

Sementara, Jumlah kasus yang terlapor berdasarkan jenis kasus di LPA Provinsi Banten pada Januari sampai Juli 2016 melibatkan 66 anak dengan keterangan sebagai berikut: 36 anak (54.54%) terlibat dalam kasus kekerasan seksual; 5 anak (7.57%) terlibat dalam kekerasan fisik, 4 anak (6.06%) menjadi korban penelantaran, 3 anak (4.45%) terlibat dalam kekerasan psikis, 5 Anak (7.57%) terlibat dalam perebutan hak asuh anak, 2 anak (3.03%) adalah AMPK, 7 anak (10.60%) adalah anak eks gafatar, 4 anak (6.06%) mengalami masalah kesehatan.

Sedangkan, Jumlah kasus yang terlapor berdasarkan jenis kelamin di LPA Provinsi Banten prada Januari sampai Juli 2016 melibatkan 66 anak dengan keterangan sebagai berikut: 26 anak (39.39%) adalah laki-laki dan 40 anak (60.60%) adalah anak perempuan. Dan, jumlah kasus yang terlapor berdasarkan wilayah kab/kota se-Provinsi Banten pada Januari sampai Juli 2016 melibatkan 66 anak dengan keterangan sebagai berikut: kota serang sebanyak 15 anak (22.72%), kab.serang sebanyak 15 anak (22.72%), kota cilegon sebanyak 5 anak (7.57%), kab.pandeglang sebanyak 24 anak (36.36%), kota tangerang sebanyak 1 anak (1.51%), kab tangerang sebanyak 1 anak (1.51%).

Iip mengatakan, kita tidak bisa mengindetifikasi siapa dan kapan seorang pelaku akan melakukan kekerasan. Namun, menurut kajian yang dilakukan LPA secara nasional, 90 persen pelaku kekerasan terhadap anak melibatkan orang dekat dari si korban, seperti tenaga pengajar atau pendidik kepada anak.

“Hampir 90 persen pelaku kekerasan terhadap anak, dilakukan oleh orang dekat korban”

Iip menyebutkan film porno, game online, dan akses anak-anak menggunakan internet tanpa pengawasan orang tua menjadi salah satu faktor tingginya kasus kekerasan maupun pelecehan seksual.

“Ketika anak sudah terpapar pornografi, salah satu efeknya adalah kecenderungan melakukan pelecehan seksual,” kata dia.

Iip menambahkan, jika seorang anak sejak usia dini sudah memiliki masalah sosial, maka akan sulit untuk merehabilitasinya karena memerlukan jangka waktu yang sangat panjang dan melibatkan banyak sektor.

LPA Banten berharap kepada aparat penegak hukum, agar Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) seyogyanya ada di tiap polsek, agar bisa lebih menjangkau.(RUL)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment