a
Widget Image
Rano Karno saat foto bersama Megawati dalam acara peringatan hari Bumi 22 April 2016 di Pandeglang / DZIKI BANPOS

Mengintip Calon Wakil Rano Pilihan Mega

Laporan TIM Redaksi bantenpos.co

15 Agustus 2016 akan menjadi hari yang ditunggu-tunggu sebagian tokoh di Banten. Pada hari itu, rencananya Ketum PDIP Megawati akan menggelar acara halal bihalal sekaligus mendeklarasikan pasangan Rano Karno di Kota Serang.

Point kedualah yang membuat para tokoh dan politisi di Banten, berdebar-debar. Siapa pada akhirnya yang akan dipilih Megawati untuk berduet dengan kadernya dalam Pilgub Banten.

Apakah pilihan Mega mudah diterka atau sebaliknya? Jika melihat ke belakang, postur koalisi yang dibangun PDIP biasanya ramping. Mungkin hanya melibatkan dua atau tiga partai. Koalisi lebih kepada memenuhi jumlah minimal dukungan sah mengusung calon.

Tradisi lainnya, pilihan Mega dalam memenangkan Pilkada lebih menekankan pada kekuatan figur. Figur-figur yang populer, bersih dan berprestasi di daerahnya biasanya akan dijagokan.

Pilihan akan koalisi ramping biasanya akan terjadi jika ada sejumlah faktor terpenuhi. Pertama, tokoh paling populer di daerah tersebut berasal dari kader partai. Kedua, kursi PDIP di legislatif sangat dominan.

Nah dua syarat itu sepertinya terpenuhi di Banten. Rano Karno, kader sekaligus pertahanan terpopuler dalam sejumlah survei. Jumlah kursi PDIP di legislatif juga cukup ideal, hanya butuh tambahan 3 kursi. Cukup menggandeng 1 partai, Rano sudah bisa melenggang.

Jika semangat koalisi ramping menguat, maka peluang para calon wakil Rano yang akan dipilih Mega adalah calon-calon yang diusulkan partai. Kini, ada beberapa partai yang sudah menjajaki koalisi sekaligus mengusulkan calon pendamping.

PPP yang lebih dulu mengusulkan banyak nama. Ada kader dan tokoh luar partai. Kemudian PAN dan PKB juga membawa sejumlah nama hasil penjaringan. Hanya Gerindra dan Nasdem yang mengusulkan kadernya masing-masing. Budi Heryadi dan Wawan Iriawan.

Jika dikerucutkan, maka pilihan Mega hanya ada dua. Memilih kader partai yang diusulkan partai calon koalisi atau figur non kader namun diusulkan partai.

Setelah makin mengerucut, sejumlah kandidat ini akan dilihat dari aspek popularitas, elektabilitas, track record, dan prestasi yang telah dicapai. Jika figur itu sudah ditemukan, maka PDIP cukup berkoalisi dengan partai yang mengusulkan figur itu. Partai lain akan ditinggalkan.

Manuver PPP yang akan menggalang poros baru dalam pilgub sepertinya menguatkan dugaan koalisi ramping PDIP. Meski poros baru itu akan kesulitan mencari figur. Jadikah koalisi ramping? Kita tunggu tgl 15 Agustus.(***)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment