PT Cemindio Tidak Berani Bongkar Batu Masigit

BAYAH, BANPOS – Ada yang aneh ditemukan dibalik pembangunan pelabuhan khusus (Pelsus) milik PT Cemindo Gemilang di pantai Jogjogan Desa Darmasari kecamatan Bayah. Yakni ada sebuah batu karang yang berdiri kokoh di kawasan pelabuhan pabrik semen terbesar se Asia Tenggara itu, yaitu Batu Masigit.

Bukan lantaran apa, secara posisi batu tersebut sudah menjadi hak pihak cemindo, namun agak janggal itu terlihat dibiarkan oleh pihak investor yang tengah gencar melakukan pelbagai penggusuran, apalagi batu itu terselip di antara ragam rangka beton Pelsus Cemindo.

Namun, apa sesungguhnya yang membuat pihak pengembang pembangunan pelabuhan, hingga tidak berani membongkar batu karang yang oleh warga setempat disebut batu masigit tersebut. Padahal, banyak batu karang serupa yang sudah di bongkar dan diuruk oleh pengembang untuk dijadikan kawasan pelabuhan.

“Iya, dari sekian batu karang yang ada di kawasan pantai yang sedang dibangun pelabuhan itu hanya batu masigit yang tidak dibongkar,” kata Joni, seorang warga Desa Darmasari.

Mungkin, lanjut dia, pihak perusahaan takut membongkar batu itu karena kerap mendapat protes sejumlah warga, karena selain dikeramatkan batu yang menyerupai bangunan kubah mesjid itu dianggap situs peninggalan jaman purbakala.

Namun, meski dianggap keramat, batu yang diperkirakan berumur jutaan tahun itu tidak pernah didatangi penziarah.

“Paling juga dipake tempat mancing, kalo yang ziarah mah hampir tidak ada,” jelasnya. Sementara, Ringgo seorang operator alat berat mengaku kerap menjumpai hal-hal aneh ketika melakukan pekerjaan pengerukan di sekitar batu masigit itu.

Bahkan tambahnya, pernah pada satu saat malam, alat keruk belko yang dioperasikanya tidak berfungsi sama sekali. Kata dia, dari kejauhan, ia seperti melihat batu itu sebuah istana yang dipenuhi para prajurit kerajaan.

“Waktu itu kalo nggak salah malam Jumat, saya lihat dari kejauhan seperti ada banyak orang yang sedang berkumpul. Pas saya dekati, tiba-tiba alat berat yang saya operasikan mendadak mati,” akunya.

Terpisah, tokoh sesepuh Bayah, MS Badjadji dalam sebuah kesempatan kepada BANPOS membenarkan kalau batu itu punya nilai sejarah dan memiliki makna kuat bagi masyaraklat Bayah.

“Walaupun sekarang banyak masyarakat yang tidak tahu perihal batu masigit itu, sesungguhnya batu itu punya nilai sejarah kuat bagi masyarakat Bayah dahulu, dan jangan coba-coba ada yang mengganggunya, kalau tidak percaya silahkan saja ganggu,” tandasnya. (WDO)

Share With:
Rate This Article
Comments
  • Masya Allah…..Astagfirullah.
    Tokoh masyarakat Bayah yakni MS Badjadji memberikan statment bahwa “Batu Masigit Itu Mempunyai Nilai Sejarah”. Pertanyaan saya sejarah apa? Sejak saya kecil di Bayah dan sering mancing di pinggir pantai tepatnya di atas Batu Masigit, malahan sampai larut malam. Tidak pernah terjadi atau ada kejadian yang aneh di atas Batu Masigit itu. Sebetulnya seonggok batu alam yang berada di bibir pantai berfungsi sebagai penahan gelombang laut dan sebagai penahan dari abrasi pantai. Jika memang seonggok batu itu mempunyai nilai sejarah, mangka mana bukti catatan sejarahnya. Cuman hanya katanya dari si A, katanya dari si B, katanya dari si C, yang pernyataan itu tidak bisa dipertanggung jawabkan. Itu hanya suatu kepercayaan dan informasi yang empiris.

    Dari sudut pandang agama mangka keyakinan itu merupakan perbuatan kemusyrikan, yang bagi pemeluk Islam untuk menjauhi perbuatan tersebut, sebagaimana Firman Allah Ta’ala :
    وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
    “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (An-Nisaa`: 36).

    Ayat tersebut di atas menunjukkan makna yang umum, yaitu larangan dari semua macam syirik, baik kecil maupun besar, karena didapatkannya kata nakirah (tidak ditentukan maksudnya (indefinite) yang tersirat di dalam kata {تُشْرِكُو} berada dalam konteks kalimat nahi (larangan dengan adanya huruf {لَا} ) di dalam ayat ini, maka menunjukkan faidah keumuman perkara yang terlarang tersebut, baik syirik besar maupun kecil.

    Jika sebagian kecil masyarakat Bayah masih kekeh berkeyakinan bahwa Batu Masigit mempunyai nilai historis tapi tidak sanggup membuktikan secara objektif, mangka itu cuman isapan jempol belaka. Yang jelas bagi orang waras tidak akan menerima keyakinan seperti itu. Koq cuman seonggok batu dikeramatkan, aneh!

    Salam,
    Orang Bayah

    24 Oktober 2016
  • Masya Allah…..Astagfirullah.
    Tokoh masyarakat Bayah yakni MS Badjadji memberikan statment bahwa “Batu Masigit Itu Mempunyai Nilai Sejarah”. Pertanyaan saya sejarah apa? Sejak saya kecil di Bayah dan sering mancing di pinggir pantai tepatnya di atas Batu Masigit, malahan sampai larut malam. Tidak pernah terjadi atau ada kejadian yang aneh di atas Batu Masigit itu. Sebetulnya seonggok batu alam yang berada di bibir pantai berfungsi sebagai penahan gelombang laut dan sebagai penahan dari abrasi pantai. Jika memang seonggok batu itu mempunyai nilai sejarah, mangka mana bukti catatan sejarahnya. Cuman hanya katanya dari si A, katanya dari si B, katanya dari si C, yang pernyataan itu tidak bisa dipertanggung jawabkan. Itu hanya suatu kepercayaan dan informasi yang empiris.

    Dari sudut pandang agama mangka keyakinan itu merupakan perbuatan kemusyrikan, yang bagi pemeluk Islam untuk menjauhi perbuatan tersebut, sebagaimana Firman Allah Ta’ala :
    وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
    “Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun” (An-Nisaa`: 36).

    Ayat tersebut di atas menunjukkan makna yang umum, yaitu larangan dari semua macam syirik, baik kecil maupun besar, karena didapatkannya kata nakirah (tidak ditentukan maksudnya (indefinite) yang tersirat di dalam kata {تُشْرِكُو} berada dalam konteks kalimat nahi (larangan dengan adanya huruf {لَا} ) di dalam ayat ini, maka menunjukkan faidah keumuman perkara yang terlarang tersebut, baik syirik besar maupun kecil.

    Jika sebagian kecil masyarakat Bayah masih kekeh berkeyakinan bahwa Batu Masigit mempunyai nilai historis tapi tidak sanggup membuktikan secara objektif, mangka itu cuman isapan jempol belaka. Yang jelas bagi orang waras tidak akan menerima keyakinan seperti itu. Koq cuman seonggok batu dikeramatkan, aneh! Jika memang Batu Masigit itu merupakan situs cagar budaya, mangka harus ada catatan sejarah yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

    Saya tantang untuk berdiskusi dengan mereka yang mengklaim bahwa Batu Masigit di Pinggir Pantai Bayah mempunyai nilai sejarah.

    Salam,
    Orang Bayah

    24 Oktober 2016

Leave A Comment