Santri Dipecat, Orangtua Adukan Ponpes ke P2TP2A

SERANG, BANPOS – Orangtua mantan santri Ponpes Assa’adah mendatangi kantor Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Banten, Kamis (18/8). Para orangtua mantan santri ini mengadukan Ponpes Assa’adah yang mengeluarkan anak mereka dari sekolah dengan alasan berbuat asusila.

Berdasarkan informasi yang dihimpun BANPOS, Ponpes Assaadah menerbitkan surat pemecatan 8 santri mereka tertanggal 15 Agustus 2016. Kedelapan santri itu, yakni Da, Ib, JF, DM, FF, AK, DS, dan AR. Ponpes menilai kedelapan santri itu melanggar disiplin.

“Saya dapat telepon dari ponpes, anak saya akan dipulangkan. Alasannya tidak bisa dijelaskan lewat telepon. Saat saya akan jemput, mereka (Ponpes Assa’adah, red) bilang, anak saya akan diantar langsung,” kata salah satu orangtua santri yang enggan disebutkan namanya.

Dia baru tahu alasan anaknya dikeluarkan dari sekolah setelah bertemu dengan pihak Ponpes Assaadah. Anaknya dituduh telah berbuat asusila kepada salah satu santri. “Saya kaget. Saya pikir, anak saya sakit, atau alasan lain.” katanya.

Ln, ibu kandung Da, mengaku telah menanyakan tuduhan tersebut kepada anaknya. Akan tetapi, Da membantah tuduhan tersebut. Ln mengatakan, anak kandungnya itu terpaksa mengakui tuduhan itu karena dipaksa. “Ada surat pernyataan yang dibuat anak-anak. Pengakuan itu karena dipaksa dan ada kekerasan,” tegas Ln.

Akibat tuduhan tersebut, para orangtua kesulitan mendaftarkan anak mereka pada sekolah lain. “Kan ditanya alasan pindah kenapa,” kata Ln.

Tuduhan itu bermula, ketika tiga pekan sebelum para santri dipecat, AK pernah mendatangi kamar asrama yang ditempati Rm dan santri lain. Dengan alasan iseng, AK menarik turun celana Rm yang tengah tertidur. Perbuatan AK itu dipergoki santri lain. “Saya kan cari kasur. Biasa kan, kalau mau tidur, kasur asal pake aja. Akhirnya, masuk ke kamar Rm. Saya pelorotin celananya. Lagi tidur (Rm, red). Udah abis itu pergi,” dalih AK.

Lambat laun, kabar bahwa AK berbuat asusila terhadap Rm beredar di kalangan santri. Tidak lama, pengurus Ponpes Assaadah menanyakan hal tersebut kepada AK. Tuduhan itu diakui AK saat diinterograsi.

AK mengakui perbuatan itu bukan pertama kali. Rm pernah juga dibuli oleh tujuh orang rekannya saat pertama kali diterima sebagai santri. “Pas semester satu. Kan biasa jumat itu disuruh bersihin kamar mandi. Bak itu kan besar, kita mandi bareng (telanjang, red). Kebetulan waktu itu, semua satu kamar (kedelapan santri itu dan Rm, red),” kata Ak.

Sumino, orangtua salah satu mantan santri, menyatakan tidak percaya atas tuduhan yang dialamatkan kepada putra mereka. Oleh karena itu, mereka melaporkan kejadian tersebut kepada P2TP2A. “Ini untuk mencari kebenaran dan keadilan,” tegas Sumino.

Akibat tuduhan itu, lanjut Sumino, anak mereka sementara harus berhenti sekolah. Dia meminta agar Ponpes Assaadah jangan menebarkan fitnah. “Mereka harus membuat klarifikasi bahwa anak kami tidak melakukan sodomi,” kata Sumino.

Sementara, Pimpinan Ponpes Assa’adah Mujib membantah tudingan bahwa ada kekerasan dan pemakasaan saat menginterograsi kedelapan santri tersebut. “Tidak ada. Itu pengakuan mereka sendiri,” tegas Mujib.

Mujib mengaku keputusan untuk mengeluarkan para santri itu adalah langkah yang harus dilakukan demi menyelematkan mereka. “Itu pelanggaran hukum agama. Sebelum diterima orangtua santri juga sudah memberikan tandatangan, kalau melanggar aturan akan dipulangkan,” kata Mujib.

Pimpinan Ponpes yang berada di Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang itu menyayangkan langkah orangtua para santri itu mengadukan kasus itu ke P2TP2A. “Kami mengambil langkah itu, agar orangtua korban (Rm, red), tidak mengmabil langkah hukum. Itu demi kebaikan para pelaku,” katanya. (NED)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment