a
Widget Image
bangunan sekolah yang rapuh / DIKA

Ironis, Siswa Harus Belajar Dalam Bayang Bayang Bangunan Rapuh

SERANG, BANPOS – Sebuah kisah ironis kembali terjadi dalam dunia pendidikan di Banten, ketika rata-rata anak sekolah di perkotaan dapat dengan nyaman untuk menuntut ilmu sehingga dapat fokus belajar di dalam kelas, namun Puluhan siswa di Sekolah Dasar (SD) Negeri Sampang terpaksa harus hidup bayang-bayang runtuhnya dinding ataupun atap kelas karena kondisi yang sangat buruk, Kamis (8/9/2016).

SDN Sampang yang berlokasi di Desa Susukan, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang tersebut memiliki bangunan yang sangat rawan ambruk, bahkan empat dari delapan ruangan yang tersedia terpaksa harus ditutup karena sudang sangat tidak memungkinkan untuk digunakan dalam kegiatan belajar mengajar.

Kendati seluruh ruabg disekolah tersebut sudah tidak layak pakai, namun dengan sangat terpaksa pihak sekolah menggunakan empat ruang lainnya untuk jadikan kelas. Kepala SDN Sampang, Muhammad Rasidi mengatakan, ruangan yang rusak sebenarnya sudah tidak layak huni. Namun karena keterbatasan sarana dan prasarana, pihak sekolah terpaksa menggunakan kelas rusak untuk kegiatan belajar dan mengajar,

“Kadang rasa cemas selalu pasti ada dan menghantui kami ketika ada hujan datang Kami khawatir jika sewaktu-waktu bangunan mengalami roboh secara tiba-tiba kami takutkan cuma itug Ujar Rasidi.

Wajar apabila kekhawatiran selalu datang ketika musim penghujan datang, lanjut Rasidi mengingat kondisi sekolah yang sangat memprihatinkan tersebut, bukan hanya bocor yang dikhawatirkan oleh para siswa dan guru tetapi ambruknya diding tempat para siswa menuntut ilmu.

Kemungkinan tersebut dapat saja terjadi karena kondisi dinding yang sudah sangat rapuh termakan usia, lantaran bangunan sekolah yang sudah berdiri sejak tahun 1983 tersebut tidak pernah tersebtuh perbaikan dari pemerintah, hanya beberpa kelas saja yang sudah direnovasi pohak pemerintah namun itupun tidak merata.

“Kondisi bangunan seperti ini pasti akan berdampak pada aktivitas belajar dan mengajar. Bahkan semangat siswa akan terganggu, dan pada akhirnya para siswa akan sedikit malas untuk belajar,” pungkasnya.

Saat ini, SDN Sampang sendiri hanya memiliki 5 tenaga pengajar, itupun termasuk Kepala Sekolah. Sedangkan untuk siswa sendiri hanya memilik 70 siswa.

Untuk ukuran sekolah negeri, siswa dan tenaga pengajar di sekolah tersebut sangatlah sedikit, hal tersebut terjadi bukan karena sekolah jauh dari pemukiman namun karena tidak sedikit orangtua yang khawatir menitipkan anaknya untuk sekolah di SDN Sampang ketika melihat kondisi sekolah yang sedemikian buruk.

“Mungkin karena takut sekolahnya seperti ini,” Pungksnya. (DIK)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment