a
Widget Image
sdn 3 tanjungan, sekolah ambruk pandeglang

Sekolah Ambruk, Ratusan Siswa Belajar di Pabrik Singkong

PANDEGLANG, BANPOS – Ratusan siswa SDN 3 Tanjungan yang berlokasi di Desa Tanjungan, Kecamatan Cikeusik, terpaksa melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di ruangan terbuka dan terpaksa harus menumpang di pabrik pengolahan singkong. Hal itu diakibatkan, lantaran atap sekolah yang biasa mereka tempati ambruk.

Wakil Kepala SDN 3 Tanjungan, Sukarja mengungkapkan, jika kejadian tersebut sudah terjadi sejak 5 bulan lalu. Pada saat itu, atap 3 bangunan yang diperuntukkan untuk kelas 1, 2 dan 3 tiba-tiba ambruk. Peristiwa yang sama kembali menimpa ruang kelas lain pada setengah bulan lalu.

Ia mengaku heran, karena saat itu tidak ada fenomena alam seperti hujan atau angin kencang yang bisa menyebabkan atap sekolah ambruk. Menurutnya, hal itu disebabkan oleh rangka baja yang sudah keropos.

“Konstruksinya bajanya roboh. Sudah setengah bulan. Kan ada 2 bangunan, yang 1 sudah 5 bulanan roboh, yang terakhir setengah bulan lalu. Konstruksinya memang sudah rapuh,” urainya.

Sukarja memaparkan, atap 3 bangunan awal yang ambruk tersebut baru direnovasi pada 3 tahun lalu dengan anggaran sekitar Rp200 juta.

“Yang baru roboh bangunan tahun 2006, sedangkan bangunan tahun 2013 sudah duluan roboh 5 bulan lalu. Total ada 6 ruangan. Bangunan 2013 untuk kelas 1,2,3 roboh duluan. Akhirnya dialihkan ke bangunan lama. Jadi 1 lokal disekat untuk 2 kelas. Tetapi akhirnya pada roboh semua,” terangnya.

Demi kelancaran proses KBM, pihak sekolah terpaksa memindahkan lokasi KBM ke tempat yang dinilai lebih aman, meski jarak yang ditempuh dari sekolah sekitar 1 kilometer. Namun, kondisi itu tidak lantas menyelesaikan persoalan. Sebab, dengan kondisi bangunan tanpa tembok, membuat 139 siswa maupun guru kerap kepanasan hingga kehujanan.

“Situasi belajar tidak nyaman, karena panas dan sering kehujanan karena hanya atap tidak ada tembok. Jadi kalau ada hujan itu sawer. Tidak kondusif lah, lokasi di pinggir hutan, jadi khawatir ada ular. Ruangan kan terbuka, jadi kami yang mengajar juga tidak nyaman,” keluhnya.

Ironisnya, hingga saat ini belum ada bantuan atau solusi kongkret dari Pemkab Pandeglang melalui Dindik maupun UPT Pendidikan terkait ambruknya atap SDN 3 Tanjungan. Pihak UPT Pendidikan Kecamatan Cikeusik pun baru sebatas memeriksa kondisi bangunan.

“Kita tidak tahu berapa lama mengungsi, karena sewaktu-waktu bisa saja dipakai. Saat ini memang belum beroperasi karena masih kemarau dan tidak ada bahan baku singkong. Kita tidak tahu mau belajar kemana lagi kalau pabrik dipakai,” tukasnya. (CR-2/EKY)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment