a
Widget Image
seorang anak kecil saat akan masuk kerumahnya yang mengalami bencana banjir / DIKA

Tak Ada Bukti, Penyelidikan Banjir Bandang Carita Mentok

SERANG,BANPOS- Penyelidikan kasus banjir bandang Carita, Kabupaten Pandeglang mengalami kebuntuan. Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Banten yang mengusut kasus tersebut belum menemukan barang bukti yang cukup untuk menaikan perkara tersebut ke tahap penyidikan.

“Barang bukti belum kami temukan, masalah penebangan harus dibuktikan. Harus ada saksi yang menyatakan banyak kayu yang ditebang, siapa yang nebang itu harus diurut tapi ini agak sulit,” ujar Ditreskrimsus Polda Banten Kombes Pol Nurullah, Minggu (25/9).

Kasus banjir bandang tersebut disebabkan adanya kerusakan hutan yang diduga akibat pembalakan liar di area Kawasan Penlitian dan Pengembangan (Litbang) Institut Pertanian Bogor (IPB). Berdasarkan informasi yang diterima penyidik, kerusakan hutan tersebut terjadi sejak tahun 1998. Litbang IPB berdalih kerusakan hutan tersebut terjadi sejak pengalihan pengeloaan hutan dari Perusahaan Hutan Negara Indonesia (Perhutani).

Karena kerusakan hutan sudah terjadi bertahun-bertahun membuat penyidik kesulitan untuk menemukan barang bukti penebangan. “Siapa yang menyaksikan penebangan itu? belum ketemu selain itu tidak ada foto atau bukti lain. Ini kami mau nangkap orang yang nebang kayu, tapi kayunya mana?. Harus ada saksi yang menyatakan banyak kayu yang ditebang dan siapa yang nebang,” kata Nurullah.

Hal lain yang membuat penyidik kesulitan mengungkap kasus tersebut ialah tempat kejadian perkara (TKP) sudah banyak rusak akibat longsor. Namun begitu penyidik masih akan melanjutkan perkara tersebut dan belum berniat untuk menghentikan penyelidikannya.

“Penyelidikan kapan pun masih bisa dilakukan. Lain proses penyidikan, kalau proses lidik (penyelidikan) masih mentok nanti kami bikin laporan tindaklanjutnya seperti apa yang jelas kami tidak diam,” tutur Nurullah.

Sejauh ini penyidik sudah merampungkan pemeriksaan, tiga pengelola hutan di Kabupaten Pandeglang. Ketiganya Litbang IPB, Perhutani dan Tahura. Pengelolaan hutan di sekitar Carita, Kabupaten Pandeglang dan lereng Gunung Aseupan, Perhutani paling banyak yang mendapat izin yakni 3.000 hektare. Sedangkan Tahura sebanyak 1.670 hektare dan Litbang ITB hanya sekitar 30 hektare. Dari ketiga pengelola hutan tersebut, ketiganya membantah terlibat dalam kerusakan hutan.

“Sementara ini mereka (Libtbang IPB, Tahura, Perhutani) ketika pemeriksaan tidak menemukan adanya kerusakan. Tapi yang kami tarik adalah mencari saksi yang menyatakan tahun 1998 ada kerusakan ini yang belum ketemu. Mereka juga tidak bakalan mengatakan itu (pengakuan kerusakan hutan).”ucap Nurullah.

Diberitakan sebelumnya, banjir bandang yang disertai lumpur menerjang empat desa di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang pada Minggu (24/7) lalu. Empat desa tersebut adalah Desa Desa Kalang Anyar, Desa Teluk, Desa Caringin dan Desa Labuan. Selain di Kecamatan Labuan terdapat dua desa di Kecamatan Carita yang terendam banjir lumpur. Dua desa tersebut yakni Desa Pejamben dan Desa Banjarmasin. Ketinggian banjir di enam desa bervariasi mulai dari terendah 45 cm hingga 120 cm.

Musibah tersebut selain merendam ratusan rumah warga juga menimbulkan empat korban jiwa yang terjebak banjir lumpur di depan hotel Wira Carita, Kabupaten Pandeglang. Keempat korban tersebut masing-masing Evi Lutfiah (41), M Fahri Ramadan (6), Syarifatul Ginayah (18), dan Ahmad Ahyani (52). Seluruh korban tersebut merupakan warga kampung Pangeuseupan, RT 01/14, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang.(NED)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment