a
Widget Image
mendag Enggartiasto Lukita

Mendag Paparkan Tiga Strategi Kedaulatan Pangan Indonesia

SERANG, BANPOS – Tantangan ekonomi Indonesia ke depan adalah menciptakan kemandirian pangan. Ada tiga strategi yang harus dilakukan. Kebutuhan pangan rakyat terpenuhi, harga yang stabil dan murah serta penyerapan seluruh produksi pangan dalam negeri.

Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita dalam orasi ilmiahnya di depan Sidang Senat Terbuka Untirta dalam rangka Dies Natalis ke-35, di kampus Untirta, Serang, Sabtu (1/10/2016).

“Kemandirian ekonomi Indonesia salah satunya bisa diwujudkan dengan menciptakan kedaulatan pangan. Ini menjadi tantangan saya selaku Menteri Perdagangan sesuai amanat Presiden,” papar Enggar.

Menurut Enggar, nilai impor pangan semakin tinggi dari tahun ke tahun. Hampir seluruh komoditi pangan masih impor. Oleh karena itu, harus ada langkah yang dilakukan untuk mengurangi impor.

“Kita harus melakukan perubahan dari kebiasaan lama dalam mengelola pangan dengan berbagai kebijakan baru yang bisa memunculkan kesejahteraan bagi rakyat,” ujar pria kelahiran Cirebon ini.

Ada tiga upaya dalam bidang pangan yang menjadi fokus Pemerintah Jokowi. Pertama, terpenuhinya kebutuhan pangan dalam negeri. Ini artinya, harus ada intensifikasi dan ekstensifikasi produksi pangan dalam negeri. Selain peningkatan produksi lahan pangan, juga harus ada perluasan melalui lahan baru.

Kemiskinan selama ini, lanjutnya, lebih banyak berada di pedesaan. Dan 50 persen pengeluaran mereka diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Sehingga produksi pangan ini harus bisa meningkatkan kehidupan yang layak para petani dan peternak di pedesaan.

Banten dalam kesenjangan kemiskinan ini, lanjutnya, sudah mengalami perubahan. Kemiskinan di pedesaan mulai menurun. Kesenjangan kemiskinan yang tinggi masih di wilayah Indonesia Timur.

Dalam hal harga pangan, menurut Enggar, harga harus murah dan stabil. Selama ini kenaikan harga pangan tidak pernah dinikmati petani dan peternak. Kenaikan harga lebih disebabkan mata rantai distribusi yang panjang. Bisa sampai 5 atau 6 perantara. Ini yang menyebabkan inefisiensi.

“Guna mengatasi hal ini Pemerintah akan memotong mata rantai tersebut. Cukup dua atau tiga perantara saja,” tandas mantan politisi Golkar itu.

Ketiga, Pemerintah juga akan menjamin pembelian harga pangan sehingga petani dan peternak tidak dirugikan. Berapa pun jumlah produksi pangan harus bisa diserap sehingga harga tidak jatuh.

Untirta Punya Andil Besar

Masih menurut Mendag, kemandirian pangan juga harus ditopang dengan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni. Untirta sebagai lembaga pendidikan dengan visi membangun manusia seutuhnya, punya andil besar menyiapkan SDM berkualitas.

“Peran itu sudah lama dilakukan oleh Untirta. Sudah 35 tahun. Para cici tas dan guru besar punya peran di situ,” ungkapnya.

Untirta, harus memanfaatkan bonus demografi (jumlah usia produktif) yang dimiliki Indonesia. Dengan populasi usia produktif yang tinggi , bangsa kita akan bisa lebih bersaing.

Vietnam sudah lebih dari kita dalam pangan. Kamboja memang masih di bawah Indonesua. Namun kalau kita jalan di tempat, maka kita akan tertinggal lagi. (RMA)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment