a
Widget Image
Dermaga pelabuhan khusus milik PT Cemindo Gemilang yang memproduksi semen merah putih di Bayah.*** WIDODO CH/BANTEN POS ***

PT CG Dituding Terima Suplai Pasir Kuarsa dari Perusahaan Ilegal

BAYAH, BANPOS – PT Cemindo Gemilang (CG) dituding menerima suplai pasir kuarsa untuk material bahan baku semen dari sejumlah perusahaan pertambangan pasir kuarsa yang diduga ilegal. Disebutkan, ada dua perusahaan pertambangan yang disebut-sebut belum memiliki izin namun masih melakukan pengiriman material pasir kuarsa ke perusahaan itu.

Informasi yang didapat BANPOS, ada dua perusahaan penyuplai yakni PT DPG yang berlokasi di Kampung Sindang Laut, Desa Darmasari, Kecamatan Bayah dan PT Umara yang berlokasi di Blok Cigalugur, Kampung Purwodadi Timur, Desa Pamubulan, Kecamatan Bayah.

Direktur utama PT DPG yang berinisial S ketika dikonfirmasi justru menanggapi kehadiran wartawan secara dingin.

“Coba anda jelaskan dari mana, untuk kepentingan apa. Terkait izin silahkan anda cek sendiri di instansi terkait, jangan bilang tambang kami ilegal kalau belum cek ke dinas terkait. Saya juga pernah jadi wartawan di Jakarta,” katanya.

Selanjutnya, seseorang berinisial AB yang mengaku orang dekat S, menghubungi wartawan dan menanyakan alasan konfirmasi wartawan tersebut.

Kepada awak media AB membenarkan jika PT DPG memang belum memiliki izin. Namun menurutnya tidak hanya PT DPG saja, perusahaan lain yang menyuplai pasir kuarsa ke PT CG pun kebanyakan belum memiliki kelengkapan izin juga.

“Untuk konfirmasi tidak masalah, karena hampir seluruh perusahaan di sini belum memiliki izin yang sempurna, berikut dermaga yang dibangun oleh PT. Cemindo Gemilang,” ungkapnya.

Dia juga menegaskan, agar soal tambang ilegal yang menyuplai material pasir kuarsa ke PT CG itu tidak usah dipermaslahkan, alasannya untuk kepentingan lapangan kerja bagi masyarakat di kawasan industri PT CG.

“Ini khan tanah milik keluarga istri saya, kalau menurut saya mah biarlah dulu berkembang demi kepentingan usaha warga di sini. Agar berjalan dua tahun dulu, nanti kemudian setelah perusahaan ada uang baru proses izinnya akan diurus, karena soal perizinan ini sudah dilakukan kepada Pemkab Lebak dan pihak provinsi,” jelas AB.

Terpisah, saat dihubungi wartawan, Manager CSR PT CG, Sigit Indrayana saat diminta tanggapan terkait dua tambang tersebut mengatakan, jika aktivitas bisnis, termasuk suplai material pendukung produksi Semen, dijalankan dengan mempetimbangkan prinsip bisnis, legalitas dan sosial. Namun Sigit enggan menanggapi perihal dua perusahaan tersebut.

“Aspek bisnis dan legalitas adalah hal normatif yang harus dipenuhi pelaku usaha. Adapun aspek sosial yang dimaksud adalah pemberdayaan suplier lokal, di antaranya membangun kesempatan lapangan kerja terbuka bagi warga sekitar,” jelas Sigit. (WDO)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment