a
Widget Image
Bank Banten / IST

Tantangan dan Peluang Bank Banten (1)

Oleh: Rizal Maulana

Bank Banten terlahir kembali. 62 tahun lalu bank ini pernah berdiri di Pandeglang. Menurut Dadan Soedjana, peneliti Banten Heritage, bank ini didirikan oleh para veteran perang kemerdekaan setelah mendapat dana dari pemerintah Soekarno sebagai penghargaan atas perjuangan mereka.

Pada 27 September 1954 Mayor Raden Sjachra Sastrakusumah dan beberapa sejawatnya resmi membentuk MAI (Maskapai Andil Indonesia) Bank Banten. Bank ini diharapkan bisa membawa kesejahteraan bagi para veteran. Ada satu foto tua yang menjadi petunjuk sejarah bank ini. Foto berupa kantor Bank Banten yang terletak di Jalan Bank Banten, dekat alun-alun Pandeglang.

Sejak dibentuk bank ini berkembang cepat. Berhasil membuka cabang di Jakarta dan Bandung. Pada 1957 diresmikan kantor baru yang megah dan dihadiri Mohammad Hatta, Kepala Staf Angkatan Darat Mayjen AH Nasution dan Gubernur BI Mr Sjafruddin Prawiranegara. Namun, 10 tahun kemudian bank ini tutup.

Sepenggal sejarah ini tampaknya relevan untuk menjadi landasan semangat pimpinan Bank Banten yang baru. Estapet semangat perjuangan bisa menjadi trigger agar bank ini bisa tumbuh dan berkembang seperti bank daerah di provinsi lain. Menjadi bank kebanggaan warga Banten.

Pondasi awal bank ini sudah terbentuk. Akuisisi Bank Pundi yang memiliki 163 cabang di Indonesia menjadi modal utama bagi bank ini untuk masuk dalam persaingan bisnis perbankan. Tahap selanjutnya, bagaimana Bank Banten bisa menghadapi berbagai tantangan bisnis perbankan ke depan.

Tantangan pertama, sebagai bank baru tentu direksi bank ini perlu kerja ekstra mengenalkan produk bank ini kepada konsumen. Bank Banten harus membangun positioning dan differensiasi yang tegas di antara bank lainnya. Apalagi, saat ini sudah ada bank bjb yang juga bank pembangunan daerah yang sudah lebih dulu melekat di benak konsumen.

Jika dua hal ini sudah dirumuskan dengan baik, maka akan memunculkan brand bank kuat. Brand Bank Banten yang memiliki keunggulan, kekhasan atau keunikan. Keunggulan bisa dalam hal produk-produk perbankan seperti tabungan, kemudahan kredit, atau keunggulan lainnya.

Tantangan kedua, bagaiman Bank Banten bisa meningkatkan kemampuan modalnya. Persoalan ini juga menjadi tantangan perbankan lainnya. Di saat pertumbuhan ekonomi belum terlalu baik, penarikan dana pihak ketiga juga akan mengalami kelambatan.

Saat ini, menurut salah satu pimpinan OJK, secara umum ratio kredit dengan dana pihak ketiga mencapai 90 persen. Dengan kondisi ini, akan sulit bagi perbankan untuk meningkatkan pertumbuhan di sektor kredit. Mereka harus kerja ekstra meningkatkan dana pihak ketiga.

Tantangan ketiga, Bank Banten harus bisa menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Penyaluran kredit bagi UMKM tampaknya harus menjadi prioritas. Apalagi, jika salah satu visi bank ini membantu meningkatkan usaha kecil dan menengah. Bank Banten bisa memberikan berbagai kemudahan bagi dari sisi persyaratan, bunga yang rendah. Namun tetap memegang prinsip prudensi.

Selain tantangan, tentu saja ada peluang yang bisa membawa optimisme bagi bank ini. Pertama, jajaran direksi yang ditunjuk Rano Karno sangat menggembirakan. Mereka berasal dari praktisi bank besar yang sudah berpengalaman. Profesionalisme dan pengalaman mereka diharapkan bisa membawa bank ini menjadi besar.

Peluang lainnya, pertumbuhan ekonomi di tahun ini juga cukup baik. Sehingga, realisasi rencana bisnis perbankan pun umumnya optimis. Hampir seluruh perbankan menargetkan kenaikan baik pengumpulan dana pihak ketiga, kenaikan penyaluran kredit, hingga pendapatan lainnya.

Kita berharap, Bank Banten tidak hanya semangat di depan lalu loyo di tengah jalan. Kita juga tak ingin nasibnya seperti Bank Banten di zaman orde lama. Hanya bertahan satu dekade. Kita ingin Bank Banten yang kuat dan hidup selamanya. (***)

Share With:
Rate This Article
No Comments

Leave A Comment